Pendahuluan
Diabetes Melitus ialah suatu
penyakit kronik, ditandai dengan berbagai gejala sebagai akibat kadar gula darah yang tinggi. Walaupun
penyakit ini mudah diketahui dengan cara memeriksakan kadar gula darah, namun
pada tahap permulaan perjalanan penyakit, gejala yang dirasakan bukanlah
sesuatu yang amat mengganggu pasien, bahkan kadangkala tidak menunjukkan gejala
yang khas.
Hal tersebut acapkali
menyebabkan pasien baru diketahui menderita penyakit ini secara kebetulan,
ketika berobat ke dokter untuk suatu penyakit lain, seperti pada waktu akan
dioperasi, cabut gigi, kesemutan, penglihatan menjadi kabur, dan lain-lain. Tidak
jarang penyakit ini baru diketahui setelah pasien mengalami komplikasi (penyulit),
seperti luka yang tidak sembuh-sembuh (kaki busuk/gangrene), gatal-gatal yang
berkepanjangan (infeksi jamur), atau serangan jantung dan stroke.
Sehubungan dengan hal tersebut
di atas, pengenalan mengenai penyakit ini dan bagaimana strategi pengelolaannya
perlu kiranya kita ketahui secara seksama. Bagi pasien yang sudah diketahui
menderita diabetes, peran sertanya yang aktif dalam pengendalian penyakitnya
(beserta dengan dokter) merupakan kunci keberhasilan dalam mencegah terjadinya
komplikasi yang tidak diinginkan.
Apakah
Diabetes ?
Diabetes Melitus atau lebih
dikenal dengan istilah “penyakit kencing manis” atau ‘sakit gula”, ialah suatu
kumpulan gejala yang timbul pada seseorang, disebabkan meningkatnya kadar gula
darah akibat kekurangan hormon insulin baik secara mutlak atau relatif.
Mekanisme
Pengaturan Kadar Gula Di dalam Tubuh
Seperti kita ketahui, zat gula
atau glukosa merupakan bahan bakar utama yang dibutuhkan tubuh kita untuk
menghasilkan tenaga, guna melakukan berbagai kegiatan sehari-hari. Peristiwa
mengantuk atau perasaan lemas pada saat kita lapar, merupakan salah satu akibat
rendahnya kadar gula darah kita (hipoglikemi). Glukosa ini diperoleh dari makanan
kita sehari-hari, golongan karbohidrat (hidrat arang).
Makanan yang terutama mengandung
karbohidrat ini ialah beras, tepung-tepungan, dan gula. Di dalam usus, makanan
yang mengandung hidrat arang dipecah menjadi glukosa melalui suatu proses yang
rumit, kemudian diserap ke dalam
pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh.
Agar supaya glukosa ini dapat
dimanfaatkan sebagai sumber tenaga, ia harus dimasukkan ke dalam sel dan
mengalami pengubahan (metabolisme). Proses ini dimungkinkan oleh adanya suatu
hormon yang disebut Insulin, yang dihasilkan oleh sel-sel beta yang terdapat di
dalam kelenjar di belakang lambung, dikenal sebagai kelenjar pankreas atau
kelenjar liur perut.
Pada keadaan kekurangan hormon
ini (baik secara mutlak atau relatif), sehingga kebutuhan tubuh tidak terpenuhi,
maka kadar glukosa darah meningkat. Keadaan inilah yang bertanggung jawab atas
timbulnya berbagai gejala penyakit
diabetes.
Peningkatan
kadar glukosa darah tidak dapat dirasakan seketika oleh pasien, sehingga secara
perlahan kadar gula darah kian meninggi, hingga suatu saat muncul gejala-gejala
yang khas (minum, makan, dan kencing banyak). Apabila dibiarkan berlanjut, maka
kadar glukosa yang tinggi itu akan
meracuni sel-sel tubuh dan mengakibatkan
kerusakan organ/jaringan tubuh kita, yang dikenal sebagai komplikasi diabetes, meliputi :
kelainan mata (katarak, gangguan retina), kerusakan ginjal, penyempitan pembuluh
darah, infeksi baik akut (abses/bisul, gangren/kaki busuk) maupun kronik (TBC
paru, jamur), dan lain-lain.
Bagaimana
Terjadinya Diabetes ?
Faktor keturunan memegang
peranan penting pada kejadian penyakit ini. Hal ini dikuatkan oleh timbulnya
penyakit ini dalam keluarga. Apabila orang tua (salah satu atau keduanya)
menderita diabetes, maka kemungkinan anak-anaknya menderita penyakit ini lebih
besar. Namun demikian kini telah diketahui bahwa terdapat faktor-faktor lain
juga disamping keturunan yang dapat mencetuskan penyakit ini, seperti infeksi
oleh virus, kegemukan, kesalahan pada pola makan, proses menua, stress, minum
obat-obatan yang mempunyai efek samping menaikkan kadar glukosa darah, dan
lain-lain.
Diagnosis (penentuan
penyakit) Diabetes Melitus
Menentukan seseorang
menderita diabetes adalah dengan pemeriksa`n kadar glukosa darahnya. Kini telah
tersedia berbagai alat untuk mengukur kadar glukosa darah, yang praktis
memberikan hasil pengukuran secara cepat dan dapat dibawa kemana-mana
(Accutrend Glucose). Walaupun istilah “kencing manis” dapat diartikan sebagai
terdapatnya gula di dalam air seni , pemeriksaan glukosa dalam air seni tidak
lazim dilakukan sebagai pemeriksaan pemastian penyakit ini. Alasan yang utama
ialah, pada diabetes yang berperan adalah peninggian kadar glukosa dalam darah
(bukan dalam air seni). Selanjutnya dikemukakan bahwa penentuan glukosa dalam
air seni mempunyai kemungkinan faktor kesalahan yang cukup besar (dipengaruhi
oleh obat-obatan) dan juga ditentukan oleh kondisi ginjal pasien.
Penentuan kadar gula dalam air
seni dinyatakan secara kualitatif dengan nilai (+)/positif satu sampai
(++++)/positif empat. Oleh alasan praktis, pemantauan adanya gula dalam air
seni dapat bermanfaat untuk memperoleh gambaran yang kasar mengenai tinggi
tidaknya kadar glukosa darah sehari-hari secara mudah, dengan menggunakan carik
celup (test stup) berdasarkan perubahan warna (dari kuning hingga hijau). Di
pasaran, sarana ini dikenal sebagai glucotest.
Seseorang dikatakan menderita
diabetes apabila pada pemeriksaan darah dari pembuluh halus (kapiler)
didapatkan glukosa darah lebih dari 126 mg/dl pada keadaan puasa dan atau lebih
dari 200 mg/dl, 2jam sesudah makan. Bila yang diambil adalah darah dari
pembuluh balik (vena), maka kadar glukosa darah puasa lebih dari 140 mg/dl dan
atau 200 mg/dl, 2 jam sesudah makan.
Glukosa darah yang kurang dari
126 atau 140mg/dl pada keadaan puasa, namun antara 140-200mg, 2 jam sesudah
makan disebut sebagai : Toleransi
Glukosa Terganggu (TGT). Keadaan seperti ini tidak memerlukan pengobatan,
namun memerlukan pemantauan secara berkala.
Gejala Penyakit
Diabetes
Kecurigaan adanya diabetes dapat
diawali apabila seseorang mengeluh sering kencing, terutama malam hari, merasa
haus berlebihan walaupun cuaca tidak panas, cepat lapar, namun dalam waktu yang
tidak terlalu lama berat badan menurun secara drastis. Dalam masa selanjutnya,
ia mengeluh badan terasa lemah, kurang bergairah kerja, timbul rasa kesemutan
pada jari-jari kaki dan tangan, gatal-gatal, gairah seks yang menurun (terutama
pada laki-laki) bahkan sampai pada impotensi, terdapat luka yang sukar sembuh,
dan penglihatan kabur.
Seorang ibu yang melahirkan bayi
yang berat badannya lebih dari 4 kg, perlu dicurigai menderita diabetes dan
diperiksa lebih lanjut, walupun tidak ada gejala-gejala tersebut di atas
sebelumnya.
Terdapat sekelompok orang
tertentu yang sama sekali tidak mengeluhkan gejala-gejala tadi. Penyakit ini
baru diketahui dengan cara melakukan pemeriksaan darah sebagai persiapan untuk
tindakan pembedahan. Kadangkala dijumpai kesulitan dalam memotivasi penderita
semacam ini untuk secara teratur melakukan pengobatan untuk menurunkan kadar
gula darah yang tinggi, karena tidak dirasakan sebagai sesuatu yang amat
mengganggu.
Padahal sebenarnya, dengan
membiarkan kadar gula darah yang tinggi itu, kerusakan organ tubuh akan
berlangsung terus, sehingga suatu saat timbullah komplikasi diabetes yang
ditakuti seperti : penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, kebutaan,
hipertensi, dan stroke.
Macam-macam Penyakit
Diabetes
Terdapat beberapa macam
diabetes yang penggolongannya bermanfaat dalam pengelolaannya, yaitu :
1. Diabetes yang tergantung insulin :
biasanya usia muda, di mana di dalam tubuhnya tidak ada insulin
2. Diabetes yang tidak tergantung insulin :
timbul pada usia dewasa. Kadar insulin dalam tubuh normal atau tinggi, tetapi
tidak bekerja efektif.
3. Diabetes pada kehamilan (gestasional).
4. Diabetes yang berhubungan dengan
kekurangan gizi di masa muda.
5. Diabetes yang disebabkan oleh penyakit
lain.
Pengelolaan Diabetes
Melitus
Walaupun tidak dapat
disembuhkan, penyakit diabetes mellitus dapat dikendalikan, sehingga
penyandangnya dapat hidup secara normal
dan sehat, terbebas dari komplikasi penyakit. Tujuan pengelolaan dalam
jangka pendek ialah menghilangkan keluhan dan gejala diabetes (banyak makan,
minum dan kencing, rasa lemah, kesemutan). Karena perjalanan penyakit yang
menahun, maka pengelolaan jangka panjang bertujuan mencegah komplikasi pada
pembuluh darah (arterosklerosis/pengapuran dinding pembuluh darah) baik
kerusakan pembuluh darah besar, kecil serta kerusakan saraf (neuropati).
Prinsip Pengelolaan didasarkan pada 4 tonggak penting, yaitu :
1. Perencanaan makan (diet)
2. Latihan jasmani/olah raga
3. Pemberian obat-obat penurun gula darah
4. Penyuluhan/pendidikan
Pada tiga tonggak yang pertama,
penyuluhan/pendidikan dilakukan secara simultan untuk membangkitkan kesadaran
dan motivasi pada setiap tahap/langkah pengobatan.
Ad.1.
Perencanaan Makan penderita diabetes
diatur menurut komposisi santapan yang seimbang dengan pembagian sebagai
berikut ; karbohidrat : 60-70% protein : 10-15% lemak : 20-25%. Jumlah
kebutuhan kalori disesuaikan dengan kebutuhan akan pertumbuhan, kegiatan
jasmani, adanya penyakit penyerta.
Sasaran pengaturan diet ini
ialah sedapat mungkin mencapai berat badan ideal. Dalam prakteknya, upaya ini
tidak selalu dapat mencapai berat badan ideal tersebut, mengingat berperannya
faktor keturunan (genetik) pada postur tubuh seseorang (gemuk/langsing).
Ad.2.
Latihan Jasmani bermanfaat untuk
membakar cadangan gula dalam jaringan
tubuh, sehingga bila dilakukan secara teratur dan berkesinambungan dapat
membantu mempercepat proses penurunan berat badan mencapai berat ideal. Selain
itu, latihan jasmani juga bermanfaat untuk meningkatkan kebugaran/kesegaran
jasmani (physical fitness) pasien. Tentunya pilihan latihan jasmani harus yang
aman, mudah, tidak menjemukan dan tidak mengganggu kesehatan ( terlalu
diforsir). Latihan jasmani/olahraga terbaik ialah yang bersifat aerobic,
menggunakan sebagian besar otot-otot tubuh (tungkai dan lengan). Sebagai contoh
: berjalan cepat, jogging (berlari santai), bersepeda, dan berenang. Takaran
(dosis) latihan sebaiknya ditentukan berdasarkan pencapaian jumlah denyut nadi
per menit yang berada dalam batas aman (zona latihan), dihitung dengan rumus :
denyut nadi latihan = 75-85% x (220 – umur) nadi per menit.
Sebagai
contoh : seseorang berumur 50 tahun, maka menurut rumus tersebut, denyut nadi
latihan adalah 75-85% x
(220 – 50) = berkisar antara 128 – 145 denyut per menit. Denyut nadi tersebut
dihitung di pergelangan tangan atau sisi kiri atau kanan pangkal leher. Jadi
apabila ia melakukan latihan jasmani (berlari), maka diusahakan agar intensitas
latihan tersebut menyebabkan denyut nadinya mencapai antara 128-145 kali per menit
selama 30-45 menit. Barulah latihan tersebut dianggap bermanfaat. Kekerapan
(frekuensi) latihan sebaiknya 3-4 hari dalam seminggu.
Khusus untuk penderita diabetes
yang juga menderita penyakit lain seperti penyakit jantung koroner, riwayat
stroke (lumpuh sebelah), disarankan bergabung dengan klub-klub yang berada di
bawah pengawasan dokter, sehingga jenis, takaran, dan intensitas latihan
jasmani dapat disesuaikan dengan cermat dan aman.
Ad.3.
Obat-obatan (penurun kadar gula
darah)
Apabila telah ditempuh kedua
langkah di atas dengan baik dan benar, namun gula darah masih tetap tinggi,
maka diperlukan obat-obatan. Dikenal berbagai jenis obat penurun kadar gula
darah yang cara kerjanya berbeda-beda. Setiap jenis obat mempunyai kekhususan
untuk setiap individu. Oleh karena itu sebaiknya berhati-hati untuk menggunakan
obat orang lain (teman atau keluarga) yang menderita diabetes untuk diri
sendiri. Amat bijaksana apabila sebelumnya berkonsultasi dengan dokter
(spesialis penyakit dalam/internist) agar dapat diberikan obat yang tepat untuk
orang yang tepat.
Obat
penurun gula darah terdapat dua bentuk, yaitu yang diminum dan yang disuntik.
Obat minum yang telah kita kenal, terdiri dari beberapa jenis, seperti :
- Golongan Sulfonilurea (daonil, euglucon,
diamicron, glurenom) yang diperuntukkan bagi penderita diabetes dengan berat
badan kurang atau normal.
- Golongan Biguanid (glucophage), untuk
mereka dengan berat badan lebih (gemuk).
Kini
telah ada obat-obatan yang membantu menurunkan gula darah dengan cara
menghambat penyerapan gula dalam usus (glucobay). Disamping itu juga ada obat
yang turut membantu
menurunkan/mengendalikan berat badan dengan mengatur pola makan kita.
Golongan obat suntik yang ada ialah hormon insulin, merupakan obat yang
langsung mengatasi kekurangan insulin dalam tubuh penderita diabetes.
Pada umumnya, penyakit diabetes
disertai dengan gangguan metabolisme lemak yang membawa akibat meningkatnya kadar kolesterol dan atau
trigliserida darah. Keadaan ini lebih menambah faktor risiko untuk terjadinya
penyempitan/pengapuran pembuluh darah atau yang lebih dikenal dengan istilah
arterosklerosis, dengan komplikasi penyakit jantung koroner dan stroke (lumpuh
sebelah/semper), sedangkan diabetes sendiri sudah merupakan satu faktor risiko.
Biasanya dengan pengendalian
kadar gula darah seoptimal mungkin, kadar lemak yang tinggi tersebut akan
terkontrol pula. Pada keadaan di mana penyakit tingginya kadar lemak
(hiperkolesterol dan hipertrigliserid) tersebut tidak dapat dikendalikan dengan
kontrol gula darah serta pengaturan diet yang baik, maka diperlukan juga obat-obatan penurun lemak seperti
Lypanthyl, dan lain-lain
Pemeriksaan jasmani lengkap
secara berkala, penting untuk mengetahui adanya komplikasi pada organ tubuh
lain secara dini dan segera diobati agar tidak berlanjut.
Bagaimana mengurangi
risiko diabetes?
·
Menjalani
pola hidup sehat dengan asupan nutrisi yang seimbang dengan aktifitas yang
dilakukan.
·
Berolahraga
secara teratur disesuaikan usia, minimal seminggu 3x selama 45 menit.
·
Tidak
mengkonsumsi gula secara berlebihan (gunakan pemanis rendah kalori).
Bagaimana cara mengatasi diabetes?
·
Banyaklah
mengkonsumsi makanan sehat berserat tinggi.
·
Hindari
minuman beralkohol dan lakukan diet lemak dan gula secara konsisten.
·
Hindari
konsunsi gula secara berlebihan.
·
Berolahraga
secara teratur.
·
Mengontrol
gula darah secara teratur, sekalipun tak ada keluhan.
·
Bagi
penderita diabetes yang agak parah, jangan lupa untuk selalu membawa kartu
penderita diabetes, membawa obat penurun kadar gula dalam darah dari dokter.
Ini penting agar terhindar dari pusing-pusing, lemas, hingga pingsan karena
tiba-tiba kadar gula naik.
Penutup
Diabetes adalah suatu
penyakit degeneratif (kemunduran) yang berlangsung kronik ditandai oleh kadar
gula darah yang tinggi dengan akibat kerusakan pada berbagai organ tubuh (mata,
jantung, ginjal, dan lain-lain).
Pengelolaan
diabetes mencakup 4 pilar utama, yaitu : diet, latihan jasmani, obat-obatan,
dan penyuluhan (pendidikan). Peran serta aktif penderita sendiri dalam
pengelolaan penyakitnya (diabetes) merupakan tonggak penting keberhasilan
pengobatan.
Dr. H. Bimanesh Sutarjo Sp.PD.KGH