Wednesday, July 26, 2017

Jamu Indonesia Boleh Kalah Propaganda, Tapi Selalu Menang Khasiat

           Masyarakat umum tentu menyadari kondisi bangsa kita saat ini sangat labil utamanya di bidang sosial ekonomi, yang meliputi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Bahkan mungkin anda pun sependapat dengan pernyataan bahwa negara kita “kurang siap” menghadapi globalisasi, utamanya dalam “kesiapan mental” yang akhirnya kurang bisa merealisasikan konsep yang seharusnya dibangun sehingga terkesan tak berdaya dan hanya menjadi obyek di banyak bidang komersil.
            Di bidang kesehatan pun tampaknya demikian, sikap mental “west oriented” yang selalu bangga dengan “made in Luar Negeri” telah mengakibatkan logika kita sangat mudah terhipnotis oleh proganda produk ‘luar” sehingga kehilangan kendali untuk berfikir secara logis. Bencana bermula ketika dekade 70 – 80an di mana penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan yang dihadapi negara – negara berkembang termasuk Indonesia, “dunia barat” seolah berlomba memasukkan “malaikat penyelamat” yang bernama ANTIBIOTIK sintetis baik melalui jalur diplomasi dengan pemerintah maupun melalui pihak swasta, dan sukses besar!. Hampir semua komponen gerai kesehatan formal dikuasai, mulai dari instansi terkait, Rumah Sakit, Dokter, Apotek hingga toko obat menjelma menjadi marketing ulung bagi produk obat sintetik import. Namun 20 – 30 tahun kemudian sejak saat itu, ketika “produk” mereka sampai pada titik kulminasi tertentu, yang terjadi kini adalah gangguan atau penurunan fungsi organ secara massal (penyakit degeneratif) yang berdasarkan penelitian profesional disinyalir bahwa kondisi ini juga dipicu akibat pemakaian obat-obatan kimia secara berlebihan dan tanpa disadari bahkan dunia barat pun juga mengakui fakta ini. Era penyakit infeksi telah berlalu, kini datang era penyakit degeneratif seperti : pikun, penuaan dini, gagal ginjal, jantung, diabetes, dan sebagainya yang ternyata hal tersebut adalah momentum bagi mereka untuk sekali lagi melakukan “invasi” hipnosis kesehatan jilid 2 terhadap kita tentang pentingnya “ back to nature” dan bisa ditebak Indonesia di awal tahun 90an sampai saat ini menjadi “pasar potensial” produk berlabel natural dari “luar” yang dikemas dalam beragam bentuk dan dibumbui dengan propaganda yang menggiurkan melalui beragam pola pemasaran termasuk sistem pemasaran jaringan (MLM) yang semakin memporak porandakan akal sehat masyarakat konsumen dengan bias pemasaran upah tinggi yang mengkaburkan substansi produk dagangnya dan terkesan over promisses (janji berlebihan) baik pada penjelasan produk maupun upah jualnya.
image by google

            Meluruskan hipnosis “misterius” di atas adalah tanggung jawab kita bersama, usaha untuk selalu memberikan edukasi yang benar terhadap pemeliharaan kesehatan yang semestinya harus terus kita lakukan karena pihak “luar” pun tak pernah tinggal diam dengan beragam kepentingannya dan kita memiliki keterbatasan waktu serta kemampuan untuk memahami itu semua, membangun mental yang tangguh harus secepatnya dilakukan supaya Jamu Indonesia bisa menjadi “Tuan Rumah di Negeri Sendiri dan Menjadi Tamu Terhormat di Negara Sahabat” karena dunia telah mengakui bahwa untuk urusan Obat Tradisional (Tanaman Obat) tanah Jawa (baca : Indonesia) adalah kiblatnya, sedang untuk terapi tradisional, China memang menjadi acuan dunia.
            Persaingan industri kesehatan alami yang turut diramaikan dengan hadirnya ratusan MLM “tamu” memicu terjadinya “perang propaganda” liar yang terkadang tidak logis lagi, bahkan cenderung “membodohkan” masyarakat. Contoh konkrit ; suplemen A dari hijau daun tanaman X katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit dalam waktu relatif cepat, olahan buah mengkudu (pace) dari negeri C yang katanya tidak ada duanya di belahan dunia mana pun dan serba lebih hebat dari pace lokal. Padahal seharusnya kita wajib tahu bahwa sebenarnya fungsi suplemen, makanan fungsional maupun obat tradisional adalah berbeda dan tentu saja dari segi kandungan senyawa dan macamnya berbeda sesuai dengan fungsinya.
image by google

            Suplemen adalah makanan (nutrisi) tambahan, atau dengan kata lain sebagai penyedia unsur atau senyawa mikro yang dibutuhkan tubuh, jadi unsur – unsurnya diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit tetapi tanpa unsur tersebut berakibat terganggunya metabolisme tubuh. Jadi jelas fungsinya sebagai nutrisi pelengkap, namun dosis konsumsinya tentu saja ada standar yang optimal, sedang bila over dosis selagi benar 100% produk alami tidak menimbulkan efek samping, karena akan terbuang melalui sistem sekresi tubuh.
            Sedikit berbeda dengan makanan/minuman fungsional, sebagai contoh ; beras kencur, kunyit asam, sereal kedelai, sereal tepung beras merah, dan lain sebagainya, terletak pada kandungan bahan aktif alaminya yang relatif lebih sedikit daripada suplemen, maka dalam mengkonsumsinya tidak ada dosis yang terukur, sehingga bisa dikonsumsi kapan saja.
            Beda lagi dengan tanaman obat tradisional, karena biasanya dipilih tanaman yang mempunyai kandungan senyawa tertentu yang spesifik, dengan tujuan untuk mengatasi suatu kelainan tertentu pada tubuh. Sehingga pemakaiannya lebih khusus, artinya perlu adanya perpaduan dari berbagai jenis tanaman obat untuk saling menetralisir kemungkinan efek negatif yang ditimbulkan dari senyawa aktif yang dipilih tersebut. Yang pasti pengobatan dengan metode alami harus dilakukan secara berkesinambungan, karena reaksinya tidak sekilat obat – obatan kimia, namun efek samping yang ditimbulkan akan relatif lebih kecil apabila diproses sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik.

            Semoga paparan di atas bisa bermanfaat sebelum anda menentukan pilihan di antara ‘propaganda” yang serba “hebat”.

T. Adinugraha