Tanaman lidah buaya (Aloe vera)
sudah sejak dulu terkenal sebagai penyubur rambut. Kini getah lidah buaya itu
diolah secara modern, sehingga pemakaiannya jadi praktis sekali. Tidak hanya
sebagai penyubur rambut,tapi juga penyembuh luka, baik luka di luar maupun di
dalam tubuh sehingga sangat baik untuk penderita maag atau tukak lambung,
diabetes, radang kulit, dan juga untuk sesak napas/bengek. Penyakit apa saja
lainnya yang bisa kita sembuhkan dengan lidah buaya?
Tanaman aloe vera berasal dari
Kepulauan Cannary di sebelah barat Afrika ini biasa disebut Lidah Buaya, karena
bentuk daunnya meruncing seperti lidah, dan tepiannya berduri. Sebenarnya
Rumphius dalam bukunya, Het Amboinsch Kruidboek (yang ditulis tahun 1660 dan
baru selesai tahun 1701), menyebut daun itu lidah naga, tapi nama naga ditelan
jaman, dan di pulau Jawa yang berbahasa Indonesia diganti diam-diam menjadi
Lidah Buaya.
Tenyata tanaman lidah buaya jenisnya
sangat banyak. Ada 180 macam yang sudah diketahui oleh para botanikus, dari
yang beracun hingga yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Kebanyakan tumbuh
asli di (tanamannya itu) di daerah kering Afrika, beberapa ada yang hidup asli
di Asia daratan dan Amerika. Salah satu jenisnya yang diusahakan secara
komersial adalah Aloe Barbadensis dari pulau Barbados, Amerika Tengah. Jenis
ini lebih menguntungkan secara komersial daripada aloe vera yang lainnya,
karena cepat tumbuh, banyak hasilnya, tahan serangan hama dan penyakit, serta
nilai kelengkapan kandungan zat-zat nutrisinya seakan merupakan anugrah dan
mukjizat dari Sang Pencipta kepada manusia. Karena ketahanannya terhadap hama
dan penyakit, maka tidak diperlukan penyemprotan pestisida atau racun serangga.
Tanaman ini dibudidayakan di perkebunan daerah panas Florida dan Texas sampai
Meksiko, dan juga di Karibia dengan luas perkebunan mencapai 5.500 hektar.
Tanamannya berupa perdu yang
sepintas lalu seperti kaktus, tetapi ternyata bukan kaktus, melainkan sejenis
sukulen (tanaman berdaging dan bergetah) seperti Agave (nanas seberang), dari
suku Liliaceae. Ciri khas sukulen ini ialah daunnya gemuk-gemuk.
Semua jenis aloe vera terkenal
sebagai tanaman xerofit (tanaman tahan panas dan kekeringan) yang mampu menutup
stomata (mulut kulit) daunnya sampai rapat sekali. Itu dilakukan untuk mecegah
keluarnya air yang sudah mereka simpan. Itulah sebabnya mereka tahan hidup di
tempat yang kering kerontang, sementara tanaman biasa yang lain sudah mati.
Dalam rangka mencegah keluarnya air
ini pula, Aloe Vera (termasuk aloe barbadensis) selalu menutup setiap luka
dengan cepat sekali kalau tubuh mereka dibacok orang atau diseruduk banteng.
Ada semacam kekuatan tertentu yang digerakkan oleh enzim dalam getah tanaman
itu. Orang Mesir dan Yunani kuno mengamati hal ini dan memanfaatkan getah daun
itu untuk menutupi luka pada tubuhnya. Kalau getah tanaman itu mampu menutupi
lukanya sendiri, niscaya ia juga mampu menutupi luka makhluk lain. Begitu penalaran mereka.
Terbukti memang benar. Daun yang hijau muda dengan totol-totol lebih muda lagi
(kalau masih muda) ini tebal sekali. Ia terdiri atas kulit dan pulp (daging)
daun.
Selain mengandung sari daun yang
cair berisi aloin yang bersifat mencahar dan memperlancar pencernaan makanan,
daun lidah buaya juga mengandung getah berisi polisakarida dan asam krisofan
dalam pulpnya. Berbeda dengan sari daun yang encer seperti larutan, getah pulp
ini bersifat koloidal, yang akan berwujud gel seperti jelly (agar-agar), kalau
pHnya mendekati basa, tapi bisa berubah bentuk menjadi sol yang lebih encer
seperti sirup kalau pHnya mendekati asam.
Gel inilah yang sudah sejak tahun
2000 SM dipakai orang-orang Mesir untuk menyembuhkan luka bakar dan gatal-gatal
sakit kulit. Keampuhannya meredam sakit kalau kulit kita luka begitu terkenal
ke seluruh dunia jaman kuno, sampai Aristoteles dari Yunani menganjurkan
Alexander untuk merebut Pulau Socroto di lepas pantai Afrika Utara. Jadi bisa
diambil tanaman aloe vera-nya untuk mengobati tentaranya yang luka-luka di
medan perang dengan cepat.
Di negara modern, keampuhan daun
lidah buaya juga masih terkenal, sampai ada yang menanamnya dalam pot yang
ditaruh dekat dapur. Begitu ada yang luka jari-jarinya karena terbakar api
kompor, segera bisa “dipadamkan” dengan ujung irisan daunnya. Rasa panasnya
akan hilang dan kulit tidak jadi melepuh kesakitan.
Sudah tentu orang sibuk
mengadakan penelitian, untuk mencari tahu zat apa yang terkandung dalam gel
daun lidah buaya. Penelitian dipicu terutama oleh makin banyaknya kecelakaan
orang sakit kulit karena terkena radiasi sinar X dan sinar gamma di tempat
kerjanya. Dokter perusahaan dan dokter tentara banyak yang mengeluh karena
tidak dapat mengobati kerusakan kulit akibat radiasi itu. Lalu ada yang mulai
mencoba getah dari pulp daun lidah buaya. Ternyata lebih mujarab daripada obat
kulit yang lain. Tapi susahnya, karena tak ada yang tahu bagaimana cara
mengawetkan getah itu untuk disimpan lama sebagai sediaan obat, maka terpaksa
getah daun lidah buaya itu senantiasa diimpor dari daerah tropis. Susahnya lagi,
mengimpor tanaman hidup juga sulit, sedangkan mengimpor tanaman mati sama juga
bohong karena yang diperoleh adalah daun kering yang sudah berkurang
khasiatnya.
Karena itu, beberapa perusahaan
farmasi Amerika mencoba bertanam sendiri tanaman lidah buaya itu di perkebunan
besar. Sejak tahun 1974, penelitian tentang kandungan kimia getah itu juga
dilakukan lebih intensif, sampai pada tahun 1977 dilaporkan dalam Drugs and
Cosmetics Journal, edisi Juni, bahwa biang keladi keampuhan getah itu adalah Polisakarida (terutama glukomanan) yang bekerja sama dengan
asam-asam amino (lisin, valin, metionin, leusin, isoleusin, fenilalanin) dan enzim
oksidase, katalase, lipase dan (terutama) enzim-enzim pecah
protein. Enzim yang akhir ini membantu memecah jaringan kulit yang sakit karena
rusak, dan membantu memecah bakteri, sehingga getah itu bersifat antibiotik,
tapi sekaligus juga peredam rasa sakit. Sedangkan asam-asam amino dipakai untuk
menyusun protein pengganti sel yang rusak karena luka itu.
Glukomanan tadi juga bekerja sama
dengan beberapa vitamin (A, B6, B12,
C, E, niasinamid, kolin), mineral kalium, kalsium,
natrium, seng, kobalt, dan krom. Vitamineral ini berperan sebagai
picu pendorong proses kimia yang diperlukan dalam penyembuhan luka.
Hasil sinergetik (kerja bareng
saling memperkuat) zat-zat itulah yang menyebabkan getah aloe bisa bertindak
sebagai pendorong koagulasi yang kuat (oleh gel), pendorong pertumbuhan sel
yang tadinya rusak karena luka (oleh glukomanan) yang bersifat astringent, menciutkan
jaringan sel. Diciutkan dan didorong pertumbuhannya inilah yang membuat sel-sel
rusak itu cepat sembuh. Seorang peneliti farmasi Jerman, Freytag, menyebut
secara ringkas getah aloe itu sebagai “hormon luka”, walaupun tidak berisi
hormon sama sekali.




No comments:
Post a Comment