Tuesday, April 15, 2014

LIDAH BUAYA MEMPERBAIKI KINERJA TUBUH


            Tanaman lidah buaya (Aloe vera) sudah sejak dulu terkenal sebagai penyubur rambut. Kini getah lidah buaya itu diolah secara modern, sehingga pemakaiannya jadi praktis sekali. Tidak hanya sebagai penyubur rambut,tapi juga penyembuh luka, baik luka di luar maupun di dalam tubuh sehingga sangat baik untuk penderita maag atau tukak lambung, diabetes, radang kulit, dan juga untuk sesak napas/bengek. Penyakit apa saja lainnya yang bisa kita sembuhkan dengan lidah buaya?
            Tanaman aloe vera berasal dari Kepulauan Cannary di sebelah barat Afrika ini biasa disebut Lidah Buaya, karena bentuk daunnya meruncing seperti lidah, dan tepiannya berduri. Sebenarnya Rumphius dalam bukunya, Het Amboinsch Kruidboek (yang ditulis tahun 1660 dan baru selesai tahun 1701), menyebut daun itu lidah naga, tapi nama naga ditelan jaman, dan di pulau Jawa yang berbahasa Indonesia diganti diam-diam menjadi Lidah Buaya.

            Tenyata tanaman lidah buaya jenisnya sangat banyak. Ada 180 macam yang sudah diketahui oleh para botanikus, dari yang beracun hingga yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Kebanyakan tumbuh asli di (tanamannya itu) di daerah kering Afrika, beberapa ada yang hidup asli di Asia daratan dan Amerika. Salah satu jenisnya yang diusahakan secara komersial adalah Aloe Barbadensis dari pulau Barbados, Amerika Tengah. Jenis ini lebih menguntungkan secara komersial daripada aloe vera yang lainnya, karena cepat tumbuh, banyak hasilnya, tahan serangan hama dan penyakit, serta nilai kelengkapan kandungan zat-zat nutrisinya seakan merupakan anugrah dan mukjizat dari Sang Pencipta kepada manusia. Karena ketahanannya terhadap hama dan penyakit, maka tidak diperlukan penyemprotan pestisida atau racun serangga. Tanaman ini dibudidayakan di perkebunan daerah panas Florida dan Texas sampai Meksiko, dan juga di Karibia dengan luas perkebunan mencapai 5.500 hektar.
            Tanamannya berupa perdu yang sepintas lalu seperti kaktus, tetapi ternyata bukan kaktus, melainkan sejenis sukulen (tanaman berdaging dan bergetah) seperti Agave (nanas seberang), dari suku Liliaceae. Ciri khas sukulen ini ialah daunnya gemuk-gemuk.
            Semua jenis aloe vera terkenal sebagai tanaman xerofit (tanaman tahan panas dan kekeringan) yang mampu menutup stomata (mulut kulit) daunnya sampai rapat sekali. Itu dilakukan untuk mecegah keluarnya air yang sudah mereka simpan. Itulah sebabnya mereka tahan hidup di tempat yang kering kerontang, sementara tanaman biasa yang lain sudah mati.
            Dalam rangka mencegah keluarnya air ini pula, Aloe Vera (termasuk aloe barbadensis) selalu menutup setiap luka dengan cepat sekali kalau tubuh mereka dibacok orang atau diseruduk banteng. Ada semacam kekuatan tertentu yang digerakkan oleh enzim dalam getah tanaman itu. Orang Mesir dan Yunani kuno mengamati hal ini dan memanfaatkan getah daun itu untuk menutupi luka pada tubuhnya. Kalau getah tanaman itu mampu menutupi lukanya sendiri, niscaya ia juga mampu menutupi luka  makhluk lain. Begitu penalaran mereka. Terbukti memang benar. Daun yang hijau muda dengan totol-totol lebih muda lagi (kalau masih muda) ini tebal sekali. Ia terdiri atas kulit dan pulp (daging) daun.
Selain mengandung sari daun yang cair berisi aloin yang bersifat mencahar dan memperlancar pencernaan makanan, daun lidah buaya juga mengandung getah berisi polisakarida dan asam krisofan dalam pulpnya. Berbeda dengan sari daun yang encer seperti larutan, getah pulp ini bersifat koloidal, yang akan berwujud gel seperti jelly (agar-agar), kalau pHnya mendekati basa, tapi bisa berubah bentuk menjadi sol yang lebih encer seperti sirup kalau pHnya mendekati asam.
Gel inilah yang sudah sejak tahun 2000 SM dipakai orang-orang Mesir untuk menyembuhkan luka bakar dan gatal-gatal sakit kulit. Keampuhannya meredam sakit kalau kulit kita luka begitu terkenal ke seluruh dunia jaman kuno, sampai Aristoteles dari Yunani menganjurkan Alexander untuk merebut Pulau Socroto di lepas pantai Afrika Utara. Jadi bisa diambil tanaman aloe vera-nya untuk mengobati tentaranya yang luka-luka di medan perang dengan cepat.
Di negara modern, keampuhan daun lidah buaya juga masih terkenal, sampai ada yang menanamnya dalam pot yang ditaruh dekat dapur. Begitu ada yang luka jari-jarinya karena terbakar api kompor, segera bisa “dipadamkan” dengan ujung irisan daunnya. Rasa panasnya akan hilang dan kulit tidak jadi melepuh kesakitan.
Sudah tentu orang sibuk mengadakan penelitian, untuk mencari tahu zat apa yang terkandung dalam gel daun lidah buaya. Penelitian dipicu terutama oleh makin banyaknya kecelakaan orang sakit kulit karena terkena radiasi sinar X dan sinar gamma di tempat kerjanya. Dokter perusahaan dan dokter tentara banyak yang mengeluh karena tidak dapat mengobati kerusakan kulit akibat radiasi itu. Lalu ada yang mulai mencoba getah dari pulp daun lidah buaya. Ternyata lebih mujarab daripada obat kulit yang lain. Tapi susahnya, karena tak ada yang tahu bagaimana cara mengawetkan getah itu untuk disimpan lama sebagai sediaan obat, maka terpaksa getah daun lidah buaya itu senantiasa diimpor dari daerah tropis. Susahnya lagi, mengimpor tanaman hidup juga sulit, sedangkan mengimpor tanaman mati sama juga bohong karena yang diperoleh adalah daun kering yang sudah berkurang khasiatnya.
Karena itu, beberapa perusahaan farmasi Amerika mencoba bertanam sendiri tanaman lidah buaya itu di perkebunan besar. Sejak tahun 1974, penelitian tentang kandungan kimia getah itu juga dilakukan lebih intensif, sampai pada tahun 1977 dilaporkan dalam Drugs and Cosmetics Journal, edisi Juni, bahwa biang keladi keampuhan getah itu adalah Polisakarida (terutama glukomanan) yang bekerja sama dengan asam-asam amino (lisin, valin, metionin, leusin, isoleusin, fenilalanin) dan enzim oksidase, katalase, lipase dan (terutama) enzim-enzim pecah protein. Enzim yang akhir ini membantu memecah jaringan kulit yang sakit karena rusak, dan membantu memecah bakteri, sehingga getah itu bersifat antibiotik, tapi sekaligus juga peredam rasa sakit. Sedangkan asam-asam amino dipakai untuk menyusun protein pengganti sel yang rusak karena luka itu.
Glukomanan tadi juga bekerja sama dengan beberapa vitamin (A, B6, B12, C, E, niasinamid, kolin), mineral kalium, kalsium, natrium, seng, kobalt, dan krom. Vitamineral ini berperan sebagai picu pendorong proses kimia yang diperlukan dalam penyembuhan luka.
Hasil sinergetik (kerja bareng saling memperkuat) zat-zat itulah yang menyebabkan getah aloe bisa bertindak sebagai pendorong koagulasi yang kuat (oleh gel), pendorong pertumbuhan sel yang tadinya rusak karena luka (oleh glukomanan) yang bersifat astringent, menciutkan jaringan sel. Diciutkan dan didorong pertumbuhannya inilah yang membuat sel-sel rusak itu cepat sembuh. Seorang peneliti farmasi Jerman, Freytag, menyebut secara ringkas getah aloe itu sebagai “hormon luka”, walaupun tidak berisi hormon sama sekali.

No comments:

Post a Comment