Masyarakat umum tentu menyadari kondisi bangsa kita saat ini sangat
labil utamanya di bidang sosial ekonomi, yang meliputi kesehatan, pendidikan,
dan kesejahteraan. Bahkan mungkin anda pun sependapat dengan pernyataan bahwa
negara kita “kurang siap” menghadapi globalisasi, utamanya dalam “kesiapan
mental” yang akhirnya kurang bisa merealisasikan konsep yang seharusnya
dibangun sehingga terkesan tak berdaya dan hanya menjadi obyek di banyak bidang
komersil.
Di bidang kesehatan
pun tampaknya demikian, sikap mental “west oriented” yang selalu bangga dengan
“made in Luar Negeri” telah mengakibatkan logika kita sangat mudah terhipnotis oleh
proganda produk ‘luar” sehingga kehilangan kendali untuk berfikir secara logis.
Bencana bermula ketika dekade 70 – 80an di mana penyakit infeksi merupakan
masalah kesehatan yang dihadapi negara – negara berkembang termasuk Indonesia,
“dunia barat” seolah berlomba memasukkan “malaikat penyelamat” yang bernama
ANTIBIOTIK sintetis baik melalui jalur diplomasi dengan pemerintah maupun
melalui pihak swasta, dan sukses besar!. Hampir semua komponen gerai kesehatan
formal dikuasai, mulai dari instansi terkait, Rumah Sakit, Dokter, Apotek
hingga toko obat menjelma menjadi marketing ulung bagi produk obat sintetik
import. Namun 20 – 30 tahun kemudian sejak saat itu, ketika “produk” mereka
sampai pada titik kulminasi tertentu, yang terjadi kini adalah gangguan atau
penurunan fungsi organ secara massal (penyakit degeneratif) yang berdasarkan
penelitian profesional disinyalir bahwa kondisi ini juga dipicu akibat
pemakaian obat-obatan kimia secara berlebihan dan tanpa disadari bahkan dunia
barat pun juga mengakui fakta ini. Era penyakit infeksi telah berlalu, kini
datang era penyakit degeneratif seperti : pikun, penuaan dini, gagal ginjal,
jantung, diabetes, dan sebagainya yang ternyata hal tersebut adalah momentum
bagi mereka untuk sekali lagi melakukan “invasi” hipnosis kesehatan jilid 2
terhadap kita tentang pentingnya “ back to nature” dan bisa ditebak Indonesia
di awal tahun 90an sampai saat ini menjadi “pasar potensial” produk berlabel
natural dari “luar” yang dikemas dalam beragam bentuk dan dibumbui dengan
propaganda yang menggiurkan melalui beragam pola pemasaran termasuk sistem
pemasaran jaringan (MLM) yang semakin memporak porandakan akal sehat masyarakat
konsumen dengan bias pemasaran upah tinggi yang mengkaburkan substansi produk
dagangnya dan terkesan over promisses (janji berlebihan) baik pada penjelasan
produk maupun upah jualnya.
![]() |
| image by google |
Meluruskan hipnosis
“misterius” di atas adalah tanggung jawab kita bersama, usaha untuk selalu
memberikan edukasi yang benar terhadap pemeliharaan kesehatan yang semestinya
harus terus kita lakukan karena pihak “luar” pun tak pernah tinggal diam dengan
beragam kepentingannya dan kita memiliki keterbatasan waktu serta kemampuan
untuk memahami itu semua, membangun mental yang tangguh harus secepatnya
dilakukan supaya Jamu Indonesia bisa menjadi “Tuan Rumah di Negeri Sendiri dan
Menjadi Tamu Terhormat di Negara Sahabat” karena dunia telah mengakui bahwa
untuk urusan Obat Tradisional (Tanaman Obat) tanah Jawa (baca : Indonesia)
adalah kiblatnya, sedang untuk terapi tradisional, China memang menjadi acuan
dunia.
Persaingan industri
kesehatan alami yang turut diramaikan dengan hadirnya ratusan MLM “tamu” memicu
terjadinya “perang propaganda” liar yang terkadang tidak logis lagi, bahkan
cenderung “membodohkan” masyarakat. Contoh konkrit ; suplemen A dari hijau daun
tanaman X katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit dalam waktu relatif
cepat, olahan buah mengkudu (pace) dari negeri C yang katanya tidak ada duanya
di belahan dunia mana pun dan serba lebih hebat dari pace lokal. Padahal
seharusnya kita wajib tahu bahwa sebenarnya fungsi suplemen, makanan fungsional
maupun obat tradisional adalah berbeda dan tentu saja dari segi kandungan
senyawa dan macamnya berbeda sesuai dengan fungsinya.
![]() |
| image by google |
Suplemen adalah makanan (nutrisi) tambahan, atau dengan kata lain
sebagai penyedia unsur atau senyawa mikro yang dibutuhkan tubuh, jadi unsur –
unsurnya diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit tetapi tanpa unsur
tersebut berakibat terganggunya metabolisme tubuh. Jadi jelas fungsinya sebagai
nutrisi pelengkap, namun dosis konsumsinya tentu saja ada standar yang optimal,
sedang bila over dosis selagi benar 100% produk alami tidak menimbulkan efek
samping, karena akan terbuang melalui sistem sekresi tubuh.
Sedikit berbeda dengan
makanan/minuman fungsional, sebagai
contoh ; beras kencur, kunyit asam, sereal kedelai, sereal tepung beras merah,
dan lain sebagainya, terletak pada kandungan bahan aktif alaminya yang relatif
lebih sedikit daripada suplemen, maka dalam mengkonsumsinya tidak ada dosis
yang terukur, sehingga bisa dikonsumsi kapan saja.
Beda lagi dengan tanaman obat tradisional, karena
biasanya dipilih tanaman yang mempunyai kandungan senyawa tertentu yang
spesifik, dengan tujuan untuk mengatasi suatu kelainan tertentu pada tubuh.
Sehingga pemakaiannya lebih khusus, artinya perlu adanya perpaduan dari
berbagai jenis tanaman obat untuk saling menetralisir kemungkinan efek negatif
yang ditimbulkan dari senyawa aktif yang dipilih tersebut. Yang pasti
pengobatan dengan metode alami harus dilakukan secara berkesinambungan, karena
reaksinya tidak sekilat obat – obatan kimia, namun efek samping yang
ditimbulkan akan relatif lebih kecil apabila diproses sesuai dengan Cara
Pembuatan Obat yang Baik.
Semoga paparan di atas
bisa bermanfaat sebelum anda menentukan pilihan di antara ‘propaganda” yang
serba “hebat”.
T. Adinugraha


No comments:
Post a Comment