Monday, March 23, 2015

PENYAKIT SELIAK



Ancaman Besar Yang Masih Tersembunyi

            Orang tua seorang anak yang bertubuh mungil, sebut saja si X berusia 7 tahun, sempat frustasi karena anaknya tidak bisa gemuk dan sulit makan sejak usia 1 tahun. Setelah berkonsultasi dengan dokter tak ada kemajuan yang dialami anaknya. Kata dokter, si X menderita penyakit seliak.
            Mendengar nama penyakitnya saja masih asing bagi telinga kita. Apa dan bagaimana penanganan penyakit ini? Penyakit seliak atau juga sering disebut Celiak Disease, Nontropical Sprue, Enteropati Gluten, Celiac Sprue adalah suatu penyakit keturunan di mana terjadi intoleransi terhadap gluten (sejenis protein) yang menyebabkan perubahan dalam usus halus sehingga terjadi gangguan penyerapan nutrisi yang masuk ke tubuh sehingga menyebabkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh manusia.
            Penyakit seliak terjadi pada 1% di antara populasi anak dan dewasa. Pada usia dewasa terdapat 2-3 kali lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki. Di Indonesia sampai sekarang masih belum diketahui angka kejadiannya tetapi diduga angkanya tidak jauh dari 1 dibandingkan 100 orang.
PENYEBAB
            Penyakit seliak merupakan penyakit permanen yang bersifat jangka panjang. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit yaitu faktor genetik, lingkungan dan disebabkan oleh kepekaan terhadap gluten yaitu protein yang terdapat dalam terigu dan gandum hitam, barley (jewawut), dan gandum. Makanan yang mengandung bahan jewawut adalah roti, biskuit, pasta, saos, dsb. Proses terjadinya kelainan ini adalah adanya antibodi terhadap gluten yang dapat mengganggu permukaan usus halus. Gangguan ini menyebabkan lapisan usus yang berjonjot-jonjot menjadi rata. Permukaan yang rata kurang mampu mencerna dan menyerap makanan.
            Penyakit seliak bisa mengenai berbagai usia dan setiap individu berbeda manifestasi klinis yang terjadi. Beberapa orang gejala mulai tampak saat usia anak, pada orang lain timbul saat usia dewasa. Pada usia anak biasanya gejalanya timbul setelah pemberian makanan tambahan baru yaitu sekitar 4-6 bulan. Bila makanan tersebut mengandung gluten, maka keluhan yang timbul adalah sulit buang air besar, diare, perut kembung, dan sering rewel.
            Pada anak yang lebih besar, biasanya juga disertai keluhan nyeri perut. Beberapa anak mengalami sulit makan, kegagalan pertumbuhan, perut kembung yang terasa sakit, sering buang angin. Bentukan tinja biasanya banyak, berlemak, pucat, dan sangat berbau busuk. Bila disiram di atas kloset, terdapat bentukan benda padat yang melayang.
            Di dalam mulut terlihat luka seperti sariawan, atau disebut apthus ulcers, dan terdapat perubahan warna gigi. Penderita seliak sering mengalami caries gigi atau gigi keropos. Pada kulit terjadi bintil kemerahan yang agak nyeri dan gatal terutama di daerah pantat, dada atau tangan dan kaki bagian luar yang sering disebut dermatitis herpertiformis.
            Gangguan lain yang bisa terjadi adalah nyeri pada otot, tulang, dan persendian, atau kejang pada otot. Anak perempuan dengan penyakit seliak mungkin akan mengalami gangguan siklus menstruasi. Bahkan banyak laporan ilmiah menyebutkan gangguan infertilitas atau kesulitan punya anak sering terjadi pada penyakit ini.
            Banyak peneliti mengungkapkan bahwa penderita seliak sering dikaitkan dengan terjadinya penyakit “autoimune” lainnya seperti : penyakit thyroid, lupus, diabetes type 1, penyakit liver, penyakit pembuluh darah kolagen, reumatoid arthritis. Disebutkan penderita seliak akan 50 kali lebih mudah mengalami penyakit diabetes dibandingkan orang normal. Penderita seliak juga 10 kali lebih mudah mengalami kekurangan Imunoglubulin A yang mengakibatkan daya tahan tubuh seseorang berkurang sehingga mudah terserang infeksi demam, batuk, dan pilek. Penderita seliak yang tidak tertangani dengan baik akan beresiko menimbulkan proses keganasan (kanker) pada saluran cerna seperti adenocarcinoma dan “Enteropathy Associated T-Cell Lymphoma”.
            Penghindaran makanan yang mengandung gluten adalah penanganan terbaik yang harus dilakukan. Pemberian makanan di rumah juga harus diperhatikan dari berbagai jenis makanan yang mengandung gluten. Demikian pula bila membeli makanan kemasan harus membiasakan melihat label atau kandungan yang ada di dalam makanan tersebut. Pemberian terapi suportif seperti pemberian kalsium, zat besi, vitamin B, dan diet tinggi protein tampaknya harus dilakukan untuk mengurangi kekurangan yang ditimbulkan akibat gangguan penyakit ini.
            Di Indonesia, kasus ini belum banyak ditemukan. Diduga hanya karena banyak kasus belum terungkap karena banyak “misdiagnosis” yang terjadi.



MEDIA KESEHATAN MALANG JAWA TIMUR

No comments:

Post a Comment