Ancaman
Besar Yang Masih Tersembunyi
Orang tua seorang anak yang bertubuh
mungil, sebut saja si X berusia 7 tahun, sempat frustasi karena anaknya
tidak bisa gemuk dan sulit makan sejak usia 1 tahun. Setelah berkonsultasi
dengan dokter tak ada kemajuan yang dialami anaknya. Kata dokter, si X
menderita penyakit seliak.
Mendengar nama penyakitnya saja
masih asing bagi telinga kita. Apa dan bagaimana penanganan penyakit ini?
Penyakit seliak atau juga sering disebut Celiak Disease, Nontropical Sprue,
Enteropati Gluten, Celiac Sprue adalah suatu penyakit keturunan di mana terjadi
intoleransi terhadap gluten (sejenis protein) yang menyebabkan perubahan dalam
usus halus sehingga terjadi gangguan penyerapan nutrisi yang masuk ke tubuh
sehingga menyebabkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh manusia.
Penyakit seliak terjadi pada 1% di
antara populasi anak dan dewasa. Pada usia dewasa terdapat 2-3 kali lebih
banyak perempuan dibandingkan laki-laki. Di Indonesia sampai sekarang masih
belum diketahui angka kejadiannya tetapi diduga angkanya tidak jauh dari 1
dibandingkan 100 orang.
PENYEBAB
Penyakit seliak merupakan penyakit
permanen yang bersifat jangka panjang. Beberapa faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya penyakit yaitu faktor genetik, lingkungan dan disebabkan
oleh kepekaan terhadap gluten yaitu protein yang terdapat dalam terigu dan
gandum hitam, barley (jewawut), dan gandum. Makanan yang mengandung bahan
jewawut adalah roti, biskuit, pasta, saos, dsb. Proses terjadinya kelainan ini
adalah adanya antibodi terhadap gluten yang dapat mengganggu permukaan usus
halus. Gangguan ini menyebabkan lapisan usus yang berjonjot-jonjot menjadi
rata. Permukaan yang rata kurang mampu mencerna dan menyerap makanan.
Penyakit seliak bisa mengenai
berbagai usia dan setiap individu berbeda manifestasi klinis yang terjadi. Beberapa
orang gejala mulai tampak saat usia anak, pada orang lain timbul saat usia
dewasa. Pada usia anak biasanya gejalanya timbul setelah pemberian makanan
tambahan baru yaitu sekitar 4-6 bulan. Bila makanan tersebut mengandung gluten,
maka keluhan yang timbul adalah sulit buang air besar, diare, perut kembung,
dan sering rewel.
Pada anak yang lebih besar, biasanya
juga disertai keluhan nyeri perut. Beberapa anak mengalami sulit makan,
kegagalan pertumbuhan, perut kembung yang terasa sakit, sering buang angin. Bentukan
tinja biasanya banyak, berlemak, pucat, dan sangat berbau busuk. Bila disiram
di atas kloset, terdapat bentukan benda padat yang melayang.
Di dalam mulut terlihat luka seperti
sariawan, atau disebut apthus ulcers, dan terdapat perubahan warna gigi. Penderita
seliak sering mengalami caries gigi atau gigi keropos. Pada kulit terjadi
bintil kemerahan yang agak nyeri dan gatal terutama di daerah pantat, dada atau
tangan dan kaki bagian luar yang sering disebut dermatitis herpertiformis.
Gangguan lain yang bisa terjadi
adalah nyeri pada otot, tulang, dan persendian, atau kejang pada otot. Anak perempuan
dengan penyakit seliak mungkin akan mengalami gangguan siklus menstruasi. Bahkan
banyak laporan ilmiah menyebutkan gangguan infertilitas atau kesulitan punya
anak sering terjadi pada penyakit ini.
Banyak peneliti mengungkapkan bahwa
penderita seliak sering dikaitkan dengan terjadinya penyakit “autoimune”
lainnya seperti : penyakit thyroid, lupus, diabetes type 1, penyakit liver,
penyakit pembuluh darah kolagen, reumatoid arthritis. Disebutkan penderita
seliak akan 50 kali lebih mudah mengalami penyakit diabetes dibandingkan orang
normal. Penderita seliak juga 10 kali lebih mudah mengalami kekurangan
Imunoglubulin A yang mengakibatkan daya tahan tubuh seseorang berkurang
sehingga mudah terserang infeksi demam, batuk, dan pilek. Penderita seliak yang
tidak tertangani dengan baik akan beresiko menimbulkan proses keganasan
(kanker) pada saluran cerna seperti adenocarcinoma dan “Enteropathy Associated
T-Cell Lymphoma”.
Penghindaran makanan yang mengandung
gluten adalah penanganan terbaik yang harus dilakukan. Pemberian makanan di
rumah juga harus diperhatikan dari berbagai jenis makanan yang mengandung
gluten. Demikian pula bila membeli makanan kemasan harus membiasakan melihat
label atau kandungan yang ada di dalam makanan tersebut. Pemberian terapi
suportif seperti pemberian kalsium, zat besi, vitamin B, dan diet tinggi
protein tampaknya harus dilakukan untuk mengurangi kekurangan yang ditimbulkan
akibat gangguan penyakit ini.
Di Indonesia, kasus ini belum banyak
ditemukan. Diduga hanya karena banyak kasus belum terungkap karena banyak “misdiagnosis”
yang terjadi.
MEDIA KESEHATAN MALANG JAWA TIMUR





