ABSTRAK
Penggunaan bahan alam, baik sebagai
obat maupun tujuan lain cenderung meningkat, terlebih dengan adanya issu back
to nature serta krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli
masyarakat. Obat tradisional dan tanaman obat banyak digunakan masyarakat
menengah ke bawah terutama dalam upaya preventif, promotif, dan rehabilitatif.
Sementara ini banyak orang beranggapan bahwa penggunaan tanaman obat atau obat
tradisional relatif lebih aman dibandingkan obat sintetis. Walaupun demikian bukan
berarti tanaman obat atau obat tradisional tidak memiliki efek samping yang
merugikan, bila penggunaannya kurang tepat. Agar penggunaannya optimal, perlu
diketahui informasi yang memadai tentang kelebihan dan kelemahan serta
kemungkinan penyalahgunaan obat tradisional dan tanaman obat. Dengan informasi
yang cukup, diharapkan masyarakat lebih cermat untuk memilih dan menggunakan
suatu produk obat tradisional atau tumbuhan obat dalam upaya kesehatan.
PENDAHULUAN
Setiap manusia pada hakekatnya
mendambakan hidup sehat dan sejahtera lahir dan batin. Kesehatan merupakan
salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping kebutuhan akan sandang, pangan,
papan, dan pendidikan, karena hanya dengan kondisi kesehatan yang baik serta
tubuh yang prima manusia dapat melaksanakan proses kehidupan untuk tumbuh dan
berkembang menjalankan segala aktifitas hidupnya. Maka tidak terlalu berlebihan
jika ada slogan “kesehatan memang bukan segala – galanya, tetapi tanpa
kesehatan anda tidak bisa berbuat apa – apa, bahkan segala – galanya itu mungkin
akan sirna”. Bertolak dari hal itu maka upaya kesehatan terpadu (sehat jasmani,
rohani, dan sosial) mutlak diperlukan baik secara individu maupun kelompok
masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Keterpaduan upaya kesehatan
tersebut meliputi pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif),
pemulihan kesehatan (rehabilitatif), serta peningkatan kesehatan (promotif).
Berbagai cara bisa dilakukan dalam rangka memperoleh derajat kesehatan yang
optimal, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman obat yang dikemas dalam
bentuk jamu atau obat tradisional.
 |
| image by google |
Adapun yang dimaksud dengan obat
tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan,
hewan, mineral, sediaan galenik,atau campuran bahan – bahan tersebut yang secara
tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Pada
kenyataannya bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar
dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat
tradisional (OT) hampir selalu identik dengan tanaman obat (TO), karena
sebagian besar OT berasal dari TO. Obat tradisional ini (baik berupa jamu
maupun TO) masih banyak digunakan oleh masyarakat, terutama dari kalangan
menengah ke bawah. Bahkan dari masa ke masa, OT mengalami perkembangan yang
semakin meningkat, terlebih dengan munculnya isu back to nature (kembali ke
alam), serta krisis yang berkepanjangan. Namun demikian dalam perkembangannya
sering dijumpai ketidak tepatan penggunaan OT karena kesalahan informasi maupun
anggapan keliru terhadap OT dan cara penggunaannya. Dari segi efek samping
memang diakui bahwa obat alam/OT memiliki efek samping relatif kecil
dibandingkan obat modern, tetapi perlu diperhatikan bila ditinjau dari
kepastian bahan aktif dan konsistensinya yang belum dijamin terutama untuk
penggunaan secara rutin.
Berdasarkan hal itu, tulisan mencoba
memaparkan beberapa aspek OT/TO, terkait dengan manfaat dan keamanannya untuk
menambah informasi tentang tanaman obat/obat tradisional.
I. KELEBIHAN
DAN KELEMAHAN OBAT TRADISIONAL/TANAMAN OBAT
A. Kelebihan
Obat Tradisional
Dibandingkan obat – obatan modern,
memang OT/TO memiliki beberapa kelebihan, antara lain : efek sampingnya relatif
rendah, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek saling
mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta
lebih sesuai untuk penyakit – penyakit metabolik dan degeneratif.
1. Efek samping OT relatif kecil bila
digunakan secara benar dan tepat
OT/TO akan bermanfaat dan aman jika
digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu,
dan cara penggunaan, pemilihan bahan
serta penyesuaian dengan indikasi tertentu.
a. Ketepatan Takaran/Dosis
daun
sledri (Apium Graviolens) telah diteliti dan terbukti mampu menurunkan tekanan
darah, tetapi pada penggunaannya harus berhati – hati karena pada dosis
berlebih (over dosis) dapat menurunkan tekanan darah secara drastis sehingga
jika penderita tidak tahan dapat menyebabkan syok. Oleh karena itu dianjurkan
agar jangan mengkonsumsi lebih dari 1 gelas perasan sledri untuk sekali minum.
Demikian pula mentimun, takaran yang diperbolehkan tidak lebih dari 2 biji
besar untuk sekali makan. Untuk menghentikan diare memang bisa digunakan
gambir, tetapi penggunaan lebih dari 1 ibu jari, bukan sekedar menghentikan
diare bahkan akan menimbulkan kesulitan buang air besar selama berhari – hari
(kebebelen).
Sebaliknya
penggunaan minyak jarak (olenium recini) untuk urus – urus yang tidak terukur
akan menyebabkan iritasi saluran pencernaan. Demikian juga dengan pemakaian
keji beling (strobilantus crispus) untuk batu ginjal melebihi 2 gram serbuk
(sekali minum) bisa menimbulkan iritasi saluran kemih.
 |
| tanaman ciplukan,. image by google |
b. Ketepatan Waktu Penggunaan
Sekitar tahun 1980an
terdapat suatu kasus di rumah sakit bersalin, beberapa pasien mengalami
kesulitan persalinan akibat mengkonsumsi jamu cabe puyang sepanjang masa
(termasuk selama masa kehamilan). Setelah dilakukan penelitian, ternyata jamu
cabe puyang mempunyai efek menghambat kontraksi otot pada binatang percobaan.
Oleh karena itu kesulitan melahirkan pada ibu – ibu yang mengkonsumsi cabe
puyang mendekati masa persalinan karena kontraksi otot uterus dihambat terus –
menerus sehingga memperkokoh otot tersebut dalam menjaga janin di dalamnya.
Sebaliknya jamu kunir asem bersifat abortivum sehingga mungkin dapat
menyebabkan keguguran bila dikonsumsi pada awal kehamilan. Sehubungan dengan
hal itu, seyogyanya bagi wanita hamil minum jamu cabe puyang di awal kehamilan
(antara 1 – 5 bulan) untuk menghindari resiko keguguran dan minum jamu kunir
asem saat menjelang persalinan untuk mempermudah proses persalinan. Kasus lain
adalah penggunaan jamu sari rapet terus menerus sejak gadis hingga berumah
tangga dapat menyebabkan kesulitan memperoleh keturunan bagi wanita yang kurang
subur karena ada kemungkinan dapat memperkecil peranakan.
c. Ketepatan cara penggunaan
Daun kecubung (datura
metel L) telah diketahui mengandung alkaloid turunan tropan yang bersifat bronkodilator
(dapat memperlebar saluran pernafasan) sehingga digunakan untuk pengobatan
penderita asma. Penggunaannya dengan cara dikeringkan lalu digulung dan dibuat
rokok serta dihisap (seperti merokok). Akibat kesalahan informasi yang
diperoleh atau kesalahpahaman bahwasanya secara umum penggunaan TO secara
tradisional adalah direbus lalu diminum air seduhannya; maka jika hal itu
diperlakukan terhadap daun kecubung, akan terjadi keracunan karena tingginya
kadar alkaloid dalam darah. Orang Jawa menyebutnya “mendem Kecubung” dengan
salah satu tandanya midriasis, yaitu mata membesar.
d.
ketepatan pemilihan bahan secara dasar
Berdasarkan pustaka,
tanaman lempuyang ada 3 jenis, yaitu lempuyang emprit (zingiber amaricans L),
lempuyang gajah (zingiber zerumbert L), dan lempuyang wangi (zingiber
aromaticum L). Lempuyang emprit dan lempuyang gajah berwarna kuning berasa
pahit, dan secara empiris digunakan untuk menambah nafsu makan; sedangkan
lempuyang wangi berwarna lebih putih (kuning pucat) rasa tidak pahit dan berbau
lebih harum, banyak digunakan sebagai komponen jamu pelangsing. Kenyataannya
banyak penjual simplisia yang kurang
memperhatikan hal tersebut, sehingga kalau ditanya jenisnya hanya mengatakan
yang dijual lempuyang tanpa mengetahui apakah lempuyang wangi atau yang lain.
Kerancuan serupa juga sering terjadi antara tanaman ngokilo yang dianggap sama
dengan keji beling, daun sambung nyawa dengan daun dewa, bahkan akhir – akhir
ini kejadian serupa juga terjadi pada tanaman kunir putih, di mana 3 jenis tanaman
yang berbeda (curcuma mangga, curcuma zedoaria, dan kaempferia rotunda)
seringkali sama – sama disebut sebagai “kunir putih” yang sempat mencuat ke
permukaan karena dinyatakan bisa digunakan untuk pengobatan kanker.
e.
ketepatan pemilihan TO/ramuan OT untuk indikasi tertentu
Kenyataan di lapangan
ada beberapa TO yang memiliki khasiat empiris serupa bahkan dinyatakan sama
(efek sinergis). Sebaliknya untuk indikasi tertentu diperlukan beberapa jenis
TO yang memiliki efek farmakologis saling mendukung satu sama lain (efek
komplementer). Walaupun demikian karena sesuatu hal, pada berbagai kasus
ditemukan penggunaan TO tunggal untuk tujuan pengobatan tertentu. Misalnya
seperti yang terjadi sekitar tahun 1985, terdapat banyak pasien di salah satu
rumah sakit di Jawa Tengah yang sebelumnya mengkonsumsi daun keji beling. Pada
pemeriksaan laboratorium dalam urine- nya ditemukan adanya sel – sel darah
merah (dalam jumlah) melebihi normal. Hal ini sangat dimungkinkan karena daun
keji beling merupakan diuretik kuat sehingga dapat menimbulkan iritasi pada
saluran kemih. Akan lebih tepat bagi mereka jika menggunakan daun kumis kucing
(ortosiphon stamineus) yang efek diuretiknya lebih ringan dan dikombinasi
dengan daun tempuyung (sonchus arvensis) yang tidak mempunyai efek diuretik
kuat tetapi dapat melarutkan batu ginjal berkalsium. Penggunaan daun tapak dara
(vinca rosea) untuk mengobati diabetes juga bukan pilihan yang paling tepat,
sebab daun tapak dara mengandung alkaloid
vinkristin dan vinblastin yang
dapat menurunkan jumlah sel darah putih (leukosit). Jika digunakan untuk
penderita diabetes yang mempunyai jumlah leukosit
normal akan membuat penderita rentan terhadap serangan penyakit karena terjadi
penurunan jumlah leukosit yang
berguna sebagai antibodi atau pertahanan tubuh.
 |
| tanaman brotowali. image by google |
2.Adanya efek komplementer dan atau
sinergisme dalam ramuan obat tradisional/komponen bioaktif tanaman obat
Dalam suatu ramuan OT umumnya
terdiri dari beberapa jenis TO yang memiliki efek saling mendukung satu sama
lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan
tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan kontra indikasi, bahkan
harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang
dikehendaki. Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan bahwa suatu formulasi terdiri
dari komponen utama sebagai unsur pokok dalam tujuan pengobatan, asisten
sebagai unsur pendukung atau penunjang, ajudan untuk membantu menguatkan efek
serta pesuruh sebagai pelengkap atau penyeimbang dalam formulasi. Setiap unsur
bisa terdiri lebih dari 1 jenis TO sehingga komposisi OT lazimnya cukup komplek
misalnya suatu formulasi yang ditujukan untuk menurunkan tekanan darah,
komponennya terdiri dari : daun sledri (sebagai vasolidator), daun apokat atau
akar teki (sebagai diuretika), daun murbei atau besaran (sebagai Ca-antagonis),
serta biji pala (sebagai sedatif ringan). Formulasi lain dimaksudkan untuk
pelangsing, komponennya terdiri dari : kulit kayu rapet dan daun jati belanda
(sebagai pengelat), daun jungrahap (sebagai diuretik), rimpang kunyit dan temulawak
(sebagai stomakik sekaligus bersifat pencahar). Dari formulasi ini walaupun
nafsu makan ditingkatkan oleh temulawak dan kunyit, tetapi penyerapan sari
makanan dapat ditahan oleh kulit kayu rapet dan daun jati belanda. Pengaruh
kurangnya defakasi dinetralisir oleh temulawak dan kunyit sebagai pencahar,
sehingga terjadi proses pelangsingan sedangkan proses defakasi dan diuresis
tetap berjalan sebagaimana biasa. Terhadap ramuan tersebut seringkali masih
diberi bahan-bahan tambahan (untuk memperbaiki warna, aroma, dan rasa) dan
bahan pengisi (untuk memenuhi volume tertentu).
Bahan
tambahan sering disebut sebagai Coringen, yaitu coringen saporis (sebagai
penyedap rasa, misalnya menta atau kayu legi), coringen odoris (penyedap
aroma/bau, misalnya biji kedawung atau buah adas) dan coringen coloris
(memperbaiki warna agar lebih menarik, misalnya kayu secang, kunyit, atau
pandan). Untuk bahan pengisi bisa digunakan pulosari atau adas, sekaligus ada
ramuan yang disebut `adas-pulowaras` atau `adas pulosari`, untuk sediaan yang
berbentuk cairan atau larutan, seringkali masih diperlukan zat-zat atau bahan
yang berfungsi sebagai stabilisator dan solubilizer. Stabilisator adalah bahan yang
berfungsi menstabilkan komponen aktif dalam unsur utama, sedangkan solubilizer
untuk menambah kelarutan zat aktif. Sebagai contoh, kurkuminoid, yaitu zat
aktif dalam kunyit yang bersifat labil (tidak stabil) pada suasana alkalis atau
netral, tetapi stabil dalam suasana asam, sehingga muncul ramuan `kunir-asem`.
Demikian juga dengan etil metoksi sinamat, suatu zat aktif pada kencur yang
agak sukar larut dalam air, untuk menambah kelarutan diperlukan adanya
`suspending agent` yang berperan sebagai solubilizer yaitu beras, sehingga
dibuat ramuan `beras-kencur`. Selain itu beberapa contoh TO yang memiliki efek
sejenis (sinergis), misalnya untuk diuretik bisa digunakan daun keji beling,
daun kumis kucing, akar teki, daun apokat, rambut jagung, dan lain sebagainya.
Sedangkan efek komplementer (saling mendukung) beberapa zat aktif dalam satu
tanaman, contohnya seperti pada herba timi (Tymus serpyllum atau Tymus
vulgaris) sebagai salah satu ramuan obat batuk. Herba timi diketahui mengandung
minyak atsiri (yang antara lain terdiri dari : tymol dan kalvakrol) serta
flavon polimetoksi. Tymol dalam timi berfungsi sebagai ekspektoran (mencairkan
dahak) dan kalvakrol sebagai anti bakteri penyebab batuk, sedangkan flavon
polimetoksi sebagai penekan batuk non narkotik, sehingga pada tanaman tersebut
sekurang-kurangnya ada 3 komponen aktif yang saling mendukung sebagai anti
tusif. Demikian pula efek diuretik pada daun kumis kucing karena adanya senyawa
flavonoid, saponin, dan kalium banyak ditemukan turunan antibiotika baru yang
potensinya lebih tinggi sehingga mampu membasmi berbagai penyebab penyakit
infeksi akan tetapi timbul penyakit baru yang bukan disebabkan oleh jasad
renik, melainkan oleh gangguan metabolisme tubuh akibat konsumsi berbagai jenis
makanan yang tidak terkendali serta gangguan faal tubuh sejalan dengan proses
degenerasi. Penyakit ini dikenal dengan sebutan penyakit metabolik dan
degeneratif. Yang termasuk penyakit metabolik antara lain : diabetes (kencing
manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal, dan
hepatitis. Sedangkan penyakit degeneratif diantaranya : rematik (radang
persendian), asma (sesak nafas), ulser (tukak lambung), haemorrhoid
(ambeien/wasir), dan pikun (lost of memory). Untuk menanggulangi penyakit
tersebut diperlukan pemakaian obat dalam waktu lama sehingga jika menggunakan
obat modern dikhawatirkan adanya efek samping yang terakumulasi dan dapat
merugikan kesehatan, oleh karena itu lebih sesuai bila menggunakan obat
alam/OT, walaupun penggunaannya dalam waktu lama tetapi efek samping yang
ditimbulkan relatif kecil sehingga dianggap lebih aman. Walaupun demikian efek
samping TO/OT tentu tidak bisa disamakan dengan efek samping obat modern.
Pada TO
terdapat suatu mekanisme yang dapat menetralkan efek samping tersebut, yang
dikenal dengan SEES (Side Effect Eliminating Substanted). Sebagai contoh di
dalam kunyit terdapat senyawa yang merugikan tubuh, tetapi di dalam kunyit juga
terdapat zat penawar yang menekan dampak negatif tersebut. Pada perasan air
tebu terdapat senyawa Saccharant yang ternyata berfungsi sebagai anti diabetes,
maka untuk penderita diabet bisa mengkonsumsi air perasan tebu, tetapi dilarang
minum gula walaupun gula merupakan hasil pemurnian dari tebu.
Katno (Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu)
S. Pramono (Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta)
Teguh
Adinugraha (PT Naturindo Fresh)