Tuesday, September 15, 2020

Fungsi Serat Bagi Tubuh

             Selulosa, roughage, serat, apapun anda menyebutkan zat yang luar biasa ini sangat efektif dalam membuang deposit lemak di sel-sel tubuh anda. Serat juga menimbulkan rasa kenyang sehingga dapat menekan nafsu makan anda. Jadi makan makanan berserat tinggi merupakan program diet yang efektif dan alami.

                Serat tidak diserap oleh tubuh, setelah serat selesai melaksanakan tugasnya membersihkan sel, ia dikeluarkan.

                Serat ada dua jenis, yaitu serat yang larut dalam air, dan serat yang tidak larut dalam air. Serat yang larut dalam air itulah yang berguna untuk menghancurkan lemak dan mengendalikan produksi kolesterol jahat (LDL), kolesterol yang menyumbat arteri (pembuluh darah). Mayoritas ditemukan dalam serelia seperti barley dan oat, kacang-kacangan, dan biji-bijian, serta beberapa buah dan sayur. Serat larut juga menahan penyerapan beberapa jenis kandungan yang bisa berefek negatif jika kadarnya terlalu tinggi atau terlalu cepat. Misalnya membantu mencegah kadar glukosa darah naik tinggi setelah makan.

pic from Google



                Serat tidak larut dalam air, jenis serat ini akan membersihkan saluran cerna dan membentuk massa di feses sehingga membantu melancarkan buang air besar. Bisa ditemukan dalam padi-padian utuh (seperti tepung gandum dan dedak gandum), kacang-kacangan, dan beberapa sayuran (seperti kembang kol, kentang, dan kacang hijau)

Serat tidak larut memang sangat efektif mengatasi gangguan pencernaan seperti sembelit, konstipasi, atau pun wasir. Penambahan volume di perut setelah kita mengasup serat tidak larut juga akan meningkatkan perasaan kenyang, sehingga mencegah makan berlebihan.

6 – 8 gelas air per hari! Agar proses pelarutan serat dalam air dapat berjalan optimal maka setiap orang haruslah mengkonsumsi 6 – 8 gelas air putih dalam seharinya.

Ringkasan dari buku “Makanan dan Jus yang Luar Biasa” karangan Dr. Widjaya Kususma, dan situs kesehatan


Wednesday, December 26, 2018

Hyperuricemia and Disease

By Carol Eustice  Reviewed by Grant Hughes, MD
Updated September 17, 2018


When we urinate, our bodies eliminate liquid waste consisting of water and salt as well as the chemicals urea and uric acid. Most uric acid is produced naturally in the body; the rest is converted from substances in certain foods, called purines. If uric acid levels are too high, they can cause a condition known as hyperuricemia, a risk factor for both gout and kidney disease.

Serum Urate Levels

Most uric acid dissolves in the blood, then travels to the kidneys to be excreted in urine. Normally, people maintain a stable serum urate level between 4 and 6.8 mg/dl, as well as a total body uric acid count of 1000 mg. If you produce too much uric acid or are unable to eliminate enough of it, you may have elevated serum urate levels, which can lead to hyperuricemia.
A blood test is one way to check your uric acid level; it can also be checked using a urine sample. Ideally, your serum uric acid level should be 6.0 mg/dl or lower. A uric acid level of 6.8 mg/dl or higher indicates hyperuricemia.

Causes and Risk Factors

Aging, being male, and being African-American or of Pacific Islander descent put you at higher risk of developing hyperuricemia. Other risk factors include:
  • Renal insufficiency
  • Metabolic syndrome—a disorder that involves obesity, abnormal blood pressure, dysglycemia (blood sugar disorders), dyslipidemia (lipid disorders)
  • A diet that is high in purines, protein, alcohol, and carbohydrates
  • Medications, including thiazides, loop diuretics, and low-dose aspirin
  • Niacin
  • Acidosis
  • Chemotherapy
  • Diabetes
  • Hypoparathyroidism
  • Psoriasis
  • Lead poisoning
  • Polycythemia vera
  • Toxemia related to pregnancy
  • Tumor lysis syndrome
  • Genetic predisposition
  • Symptoms and Complications

    While hyperuricemia itself is not a disease—and in some cases causes no symptoms or problems—a prolonged state of this condition may lead to the development of crystals, which can be problematic.
  • The two most common conditions that can result from high uric acid levels are gout and kidney disease. With gout, uric acid crystals build up in the joints, promoting inflammation and the breakdown of joint cartilage. Symptoms include pain, swelling, redness, stiffness, deformity, inflammation, and limited range of motion.
  • Uric acid crystals can also be deposited in the kidneys, causing kidney stones to form. These stones can be very painful and, if left untreated, can block the urinary tract and cause infections. Research has shown that one in five people with gout will develop kidney stones. Symptoms of kidney stones include:
    • Pain or aching in your lower back, side, abdomen, or groin
    • Nausea
    • Increased urge to urinate
    • Pain when urinating
    • Difficulty urinating
    • Blood in your urine
    • Foul-smelling urine

    • Kidney stones can also cause urinary tract infections (UTIs) because they harbor bacteria. The symptoms of a UTI can include any or all of the above; a fever or chills can also be present.
      Over time, kidney stones and other forms of kidney damage can lead to chronic kidney disease, which makes it more difficult to get rid of uric acid. Untreated kidney disease can ultimately lead to kidney failure or loss of kidney function.

    Treatment

    If you're not having symptoms, you don't necessarily require treatment for hyperuricemia. When symptoms are present, a diet low in purines can help regulate uric acid levels. If that is not effective, your doctor may prescribe a medication to control your levels.
    Foods that are high in purines include:
    • Organ meats, meat extracts, and gravy
    • Sardines, anchovies, shellfish, and tuna
    • Beer and other alcoholic beverages
    • Sugary foods and beverages (such as soda) that contain high-fructose corn syrup
    Foods that are low in purines include:
    • Milk and milk products
    • Eggs
    • Lettuce, tomatoes, and green vegetables
    • Cream soups without meat stock
    • Peanut butter and nuts
    • Citrus fruits
    It's also important to drink at least 8 ounces of water a day to help the kidneys flush out uric acid. Some studies suggest that drinking coffee on a regular basis can prevent the development of gout.
    When dietary changes do not sufficiently control hyperuricemia, your doctor may prescribe medications to keep uric acid levels under control. These include:
    • Benemid (probenecid): Known as a uricosuric medication, this drug blocks the reabsorption of urate to prevent crystals from depositing.
    • Zyloprin (allopurinol), Uloric (febuxostat): These xanthine oxidase inhibitors (XOIs) reduce the body’s production of uric acid.
    • Zurampic (lenisurad) is prescribed with an XOI to increase its effects.
    • Krystexxa (pegloticase): Pegloticase is given by intravenous infusion. It changes uric acid into a substance called allantoin that your body can eliminate easily. It is reserved for people for whom other gout medications have not worked.
    A Word From Verywell
    It is important to know your uric acid level, just as it is important to know your cholesterol or blood glucose levels. Talk to your doctor if you are experiencing sore joints or frequent urinary tract infections. If you've had attacks of gout, you should have your uric acid levels tested every six months to ensure that they remain under 6.0 mg/dl.

Asam urat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Asam urat (bahasa Inggrisuric acid, urate) adalah senyawa turunan purinadengan rumus kimia C5H4N4O3 dan rasio plasma antara 3,6 mg/dL (~214µmol/L) dan 8,3 mg/dL (~494µmol/L) (1 mg/dL = 59,48 µmol/L)[2].
Kelebihan (hiperurisemiahyperuricemia) atau kekurangan (hipourisemiahypouricemia) kadar asam urat dalam plasma darah ini sering menjadi indikasi adanya penyakit atau gangguan pada tubuh manusia.
Pada manusia, asam urat adalah produk terakhir lintasan katabolismenukleotida purina, sebab tiadanya enzim urikase yang mengkonversi asam urat menjadi alantoin. Kadar asam urat yang berlebih dapat menimbulkan batu ginjal dan/atau pirai di persendian.[3]

Penyakit asam urat[sunting | sunting sumber]

Penyakit asam urat merupakan akibat dari konsumsi zat purin secara berlebihan. Purin diolah tubuh menjadi asam urat, tetapi jika kadar asam urat berlebih, ginjal tidak mampu mengeluarkan sehingga kristal asam urat menumpuk di persendian. Akibatnya sendi terasa nyeri, bengkak dan meradang.
Asam urat adalah penyakit dari sisa metabolisme zat purin yang berasal dari sisa makanan yang kita konsumsi. Purin sendiri adalah zat yang terdapat dalam setiap bahan makanan yang berasal dari tubuh makhluk hidup. Dengan kata lain, dalam tubuh makhluk hidup terdapat zat purin ini, lalu karena kita memakan makhluk hidup tersebut, maka zat purin tersebut berpindah ke dalam tubuh kita. Berbagai sayuran dan buah-buahan juga terdapat purin. Purin juga dihasilkan dari hasil perusakan sel-sel tubuh yang terjadi secara normal atau karena penyakit tertentu. Biasanya asam urat menyerang pada usia lanjut, karena penumpukan bahan purin ini.

Pantangan penderita asam urat[sunting | sunting sumber]

  • Jeroan: otak, paru-paru, hati, limpa, usus, ginjal dan babat.
  • Seafood (Makanan laut): udang, kepiting, cumi-cumi, gurita, kerang, sotong, remis, tiram, ikan teri, ikan sarden.
  • Riverfood (Makanan sungai): ikan lele, belut, udang, kepiting dan keong.
  • Ekstrak daging seperti abon dan dendeng.
  • Makanan yang sudah dikalengkan (contoh: kornet sapi, ikan sarden, daging sapi dan daging babi).
  • Daging kambing, daging anjing, daging babi, daging sapi, daging kerbau dan daging kuda.
  • Bebek, angsa dan kalkun.
  • Burung dan kelelawar.
  • Kacang-kacangan: kacang kedelai (termasuk hasil olahan seperti tempe, tahu, tauco, oncom, susu kedelai), kacang tanah, kacang hijau, tauge dan emping/melinjo.
  • Sayuran: kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur kuping, daun singkong/ubi, daun pepaya, kangkung dan cabe/lombok.
  • Krim, es krim dan kaldu atau kuah daging yang kental.
  • Buah-buahan tertentu seperti durian, nanas dan air kelapa.
  • Makanan yang digoreng atau bersantan atau dimasak dengan menggunakan margarin/mentega.
  • Makanan kaya protein, lemak dan darah.

Tips tambahan bagi penderita asam urat[sunting | sunting sumber]

  • Konsumsi makanan yang mengandung potasium tinggi seperti tomat, kentang, yogurt dan pisang.
  • Konsumsi buah yang banyak mengandung vitamin C, seperti jeruk, pepaya dan stroberi.
  • Contoh buah dan sayuran untuk mengobati penyakit asam urat: buah naga, belimbing wuluh, jahe, labu kuning, sawi hijau, sawi putih, serai dan tomat.
  • Perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong/ubi dan roti.
  • Kurangi konsumsi karbohidrat sederhana jenis fruktosa seperti gula, permen, arum manis, gulali dan sirup.
  • Jangan minum aspirin.
  • Jangan bekerja terlalu keras/kelelahan.
  • Pada orang yang kegemukan (obesitas), biasanya kadar asam urat cepat naik tetapi pengeluaran sedikit, maka sebaiknya turunkan berat badan dengan olahraga yang cukup.
  • Sesuaikan asupan energi dengan kebutuhan tubuh, berdasarkan tinggi dan berat badan.
Untuk menyembuhkan penyakit ini ada beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya :
  • Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam urat, seperti jeroan (hati, ginjal, limpa, babat, usus, paru dan otak), hindari makanan laut (udang, kerang, cumi, kepiting); makanan kaleng (kornet, ikan sarden dan ekstrak daging), kaldu atau kuah daging yang kental.
  • Menghindari makanan seperti emping/melinjo, kangkung dan bayam, daun singkong/ubi, daun jambu mete, asparagus, buncis dan kembang kol. Hindari kacang-kacangan (kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, tempe, tauco, tauge, oncom) dan susu kedelai.
  • Menghindari makan buah durian, avokad, nanas, air kelapa.
  • Makanan yang aman dimakan, beberapa di antaranya adalah: nasi, ikan yang bersirip dan bersisik, daging ayam, telur, keju, susu dan beberapa buah-buahan.
  • Hindari minuman dan makanan beralkohol.
  • Pada orang gemuk, asam urat biasanya naik sedangkan pengeluarannya sedikit, maka untuk keamanan, orang biasanya dianjurkan menurunkan berat badan.
  • Banyak minum air putih minimal 8 - 10 gelas per hari, karena dengan banyak minum air putih, kita dapat membantu membuang purin yang ada dalam tubuh.

Faktor Risiko[sunting | sunting sumber]

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang memiliki kadar asam urat yang tinggi dalam tubuh adalah:
  • Gaya Hidup. Konsumsi makanan yang mengandung purin yang tinggi, konsumsi alkohol, dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah.
  • Kondisi Medis. Kondisi medis seperti tekanan darah tinggi, diabetes, hiperkolesterolemia, sering dikaitkan dengan kasus asam urat.
  • Obat-obatan. Pemakaian obat seperti diuretik, aspirin harus diperhatikan dan dikonsultasikan ke dokter karena dapat meningkatkan kadar asam urat.
  • Genetik. Beberapa orang yang memiliki riwayat keluarga dengan sejarah asam urat juga merupakan salah satu faktor risiko.
  • Usia dan Jenis Kelamin. Pria memiliki risiko lebih besar untuk terkena gangguan radang karena asam urat, tetapi wanita yang telah memasuki masa menopause juga memiliki risiko yang sama besarnya dengan pria.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


pengalaman penulis mengobati asam urat tanpa obat kimia : penulis pernah mengalami gejala asam urat pada tumit kaki kanan sebelah dalam. terasa agak panas
dan sakit ketika ditekan (ada benjolan kecil memerah), pada saat diam/tidak bergerak terasa sakit berdenyut. kemudian penulis mengkonsumsi
daun salam. segenggam daun salam dicampur 1 bungkus nutrisari, diblender, dan diminum tiap pagi/sore. 
nutrisari bisa diganti buah, misal apukat/buah naga/mangga, dll.
setelah 3 hari rasa sakit berkurang dan benjolan tidak memerah. 
setelah asam urat sembuh, tetap mengkonsumsi daun salam tiap 2 ato 3 hari sekali, jaga pola makan dan pola pikir.





Saturday, December 22, 2018

Alzheimer's: Study zeroes in on brain's weakest link

Published

Sunday, December 2, 2018

Folic Acid Functions in the Body

Folic Acid Functions in the Body


Folic acid is considered an essential nutrient because it cannot be made by the human body. It is required by the body for essential processes. Folic acid helps the body to create and maintain DNA and RNA, which is the building blocks of all life. We require folic acid to properly form red blood cells and for our bodies to metabolize protein for energy. Folic acid and other B vitamins have been shown to fight cardiovascular disease and to help prevent Alzheimer’s, osteoporosis, cancer and it helps to stabilize mental health.

Folic acid along with other B vitamins is an important part of the DNA and RNA replication process. Every now and then there can be a mistake in the replecation of a DNA strand, which can lead to a mutation such as cancer. Folic acid and the other B vitamins work to catch those mistakes and even prevent them so that you have healthy cells from the very beginning. In fact this is part of why folic acid is so important to take just before and during pregnancy to help prevent birth defects such as Spina Bifida, cleft palate, cleft lip, and other neural tube defects.

If our red blood cells don’t form properly we can develop a condition known as anemia. Anemia is caused by a number of illnesses and while folic acid won’t cure a potentially serious condition your doctor may prescribe folic acid for the symptom of anemia which it can fix.

When our bodies breakdown methionine one of the compounds released is homocysteine. Homocysteine is a potentially harmful compound because it is unstable and is linked to cardiovascular conditions, Alzheimers and cancer. Normally folic acid and the other B vitamins are present during this breakdown process to convert homocysteine into cysteine, which is good. If there isn’t enough of the vitamins to go around then a build up of homocysteine in the blood could result. 

So far its been found that homocysteine is toxic to the lining of blood vessels, which can lead to a hardening of the arteries called arteriosclerosis. Folic acid is the vitamin that is primarily involved in lowering levels of homocysteine in the blood, but the other B vitamins have been shown to have some effect. 

Osteoporosis is a chronic bone degenerative condition that affects women and can start as early as thirty years of age. Evidence has shown that homocysteine is involved in the process and it’s believed that this may be due to a lack of blood flow to the bones. As bones need blood to provide them with oxygen and nutrients to properly grow and maintain themselves. Folic acid is essential in making sure that homocysteine doesn’t reach high levels and end up damaging your blood vessels. Plus it helps with DNA and RNA replication and the maintence of cells membranes.

The recommended daily intake of folic acid is four hundred mcg. and if you are pregnant, could become pregnant or lactating you should take between six hundred and eight hundred mcg. daily.

Visit http://www.stanleybeautycare.com
Author Vincent Platania represents the Stanley Beauty Products. Stanley Home Products has been in business since 1936, and offers high quality home and personal care products to keep your home and your body clean. Visit http://www.stanleybeautycare.com

Vincent Platania