Wednesday, July 26, 2017

Jamu Indonesia Boleh Kalah Propaganda, Tapi Selalu Menang Khasiat

           Masyarakat umum tentu menyadari kondisi bangsa kita saat ini sangat labil utamanya di bidang sosial ekonomi, yang meliputi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Bahkan mungkin anda pun sependapat dengan pernyataan bahwa negara kita “kurang siap” menghadapi globalisasi, utamanya dalam “kesiapan mental” yang akhirnya kurang bisa merealisasikan konsep yang seharusnya dibangun sehingga terkesan tak berdaya dan hanya menjadi obyek di banyak bidang komersil.
            Di bidang kesehatan pun tampaknya demikian, sikap mental “west oriented” yang selalu bangga dengan “made in Luar Negeri” telah mengakibatkan logika kita sangat mudah terhipnotis oleh proganda produk ‘luar” sehingga kehilangan kendali untuk berfikir secara logis. Bencana bermula ketika dekade 70 – 80an di mana penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan yang dihadapi negara – negara berkembang termasuk Indonesia, “dunia barat” seolah berlomba memasukkan “malaikat penyelamat” yang bernama ANTIBIOTIK sintetis baik melalui jalur diplomasi dengan pemerintah maupun melalui pihak swasta, dan sukses besar!. Hampir semua komponen gerai kesehatan formal dikuasai, mulai dari instansi terkait, Rumah Sakit, Dokter, Apotek hingga toko obat menjelma menjadi marketing ulung bagi produk obat sintetik import. Namun 20 – 30 tahun kemudian sejak saat itu, ketika “produk” mereka sampai pada titik kulminasi tertentu, yang terjadi kini adalah gangguan atau penurunan fungsi organ secara massal (penyakit degeneratif) yang berdasarkan penelitian profesional disinyalir bahwa kondisi ini juga dipicu akibat pemakaian obat-obatan kimia secara berlebihan dan tanpa disadari bahkan dunia barat pun juga mengakui fakta ini. Era penyakit infeksi telah berlalu, kini datang era penyakit degeneratif seperti : pikun, penuaan dini, gagal ginjal, jantung, diabetes, dan sebagainya yang ternyata hal tersebut adalah momentum bagi mereka untuk sekali lagi melakukan “invasi” hipnosis kesehatan jilid 2 terhadap kita tentang pentingnya “ back to nature” dan bisa ditebak Indonesia di awal tahun 90an sampai saat ini menjadi “pasar potensial” produk berlabel natural dari “luar” yang dikemas dalam beragam bentuk dan dibumbui dengan propaganda yang menggiurkan melalui beragam pola pemasaran termasuk sistem pemasaran jaringan (MLM) yang semakin memporak porandakan akal sehat masyarakat konsumen dengan bias pemasaran upah tinggi yang mengkaburkan substansi produk dagangnya dan terkesan over promisses (janji berlebihan) baik pada penjelasan produk maupun upah jualnya.
image by google

            Meluruskan hipnosis “misterius” di atas adalah tanggung jawab kita bersama, usaha untuk selalu memberikan edukasi yang benar terhadap pemeliharaan kesehatan yang semestinya harus terus kita lakukan karena pihak “luar” pun tak pernah tinggal diam dengan beragam kepentingannya dan kita memiliki keterbatasan waktu serta kemampuan untuk memahami itu semua, membangun mental yang tangguh harus secepatnya dilakukan supaya Jamu Indonesia bisa menjadi “Tuan Rumah di Negeri Sendiri dan Menjadi Tamu Terhormat di Negara Sahabat” karena dunia telah mengakui bahwa untuk urusan Obat Tradisional (Tanaman Obat) tanah Jawa (baca : Indonesia) adalah kiblatnya, sedang untuk terapi tradisional, China memang menjadi acuan dunia.
            Persaingan industri kesehatan alami yang turut diramaikan dengan hadirnya ratusan MLM “tamu” memicu terjadinya “perang propaganda” liar yang terkadang tidak logis lagi, bahkan cenderung “membodohkan” masyarakat. Contoh konkrit ; suplemen A dari hijau daun tanaman X katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit dalam waktu relatif cepat, olahan buah mengkudu (pace) dari negeri C yang katanya tidak ada duanya di belahan dunia mana pun dan serba lebih hebat dari pace lokal. Padahal seharusnya kita wajib tahu bahwa sebenarnya fungsi suplemen, makanan fungsional maupun obat tradisional adalah berbeda dan tentu saja dari segi kandungan senyawa dan macamnya berbeda sesuai dengan fungsinya.
image by google

            Suplemen adalah makanan (nutrisi) tambahan, atau dengan kata lain sebagai penyedia unsur atau senyawa mikro yang dibutuhkan tubuh, jadi unsur – unsurnya diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit tetapi tanpa unsur tersebut berakibat terganggunya metabolisme tubuh. Jadi jelas fungsinya sebagai nutrisi pelengkap, namun dosis konsumsinya tentu saja ada standar yang optimal, sedang bila over dosis selagi benar 100% produk alami tidak menimbulkan efek samping, karena akan terbuang melalui sistem sekresi tubuh.
            Sedikit berbeda dengan makanan/minuman fungsional, sebagai contoh ; beras kencur, kunyit asam, sereal kedelai, sereal tepung beras merah, dan lain sebagainya, terletak pada kandungan bahan aktif alaminya yang relatif lebih sedikit daripada suplemen, maka dalam mengkonsumsinya tidak ada dosis yang terukur, sehingga bisa dikonsumsi kapan saja.
            Beda lagi dengan tanaman obat tradisional, karena biasanya dipilih tanaman yang mempunyai kandungan senyawa tertentu yang spesifik, dengan tujuan untuk mengatasi suatu kelainan tertentu pada tubuh. Sehingga pemakaiannya lebih khusus, artinya perlu adanya perpaduan dari berbagai jenis tanaman obat untuk saling menetralisir kemungkinan efek negatif yang ditimbulkan dari senyawa aktif yang dipilih tersebut. Yang pasti pengobatan dengan metode alami harus dilakukan secara berkesinambungan, karena reaksinya tidak sekilat obat – obatan kimia, namun efek samping yang ditimbulkan akan relatif lebih kecil apabila diproses sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik.

            Semoga paparan di atas bisa bermanfaat sebelum anda menentukan pilihan di antara ‘propaganda” yang serba “hebat”.

T. Adinugraha

Sunday, July 17, 2016

Crunchy Zucchini Fritters With Avocado Dill Dip Recipe

Recipe from Healthy Holistic Living
Fritters are fried foods that can consist of a meat, fruit or vegetable filling covered in batter, and are popular across the world due to their ease of preparation. Fritters encourage experimentation and improvisation, allowing you to create a recipe that is uniquely yours once you've found ingredients that go well together.
However, if you’ve been eating fritters from commercial establishments, there's a chance you've eaten trans fats and other unhealthy substances, which can pose health risks in the long run. But why settle for unhealthy fritters when you can make a healthy batch right at home?
This recipe from Healthy Holistic Living is an organic and healthy approach to the ever-popular zucchini fritters. The avocado dill dip makes the meal even better, because it provides extra flavor (and nutrients) that will surely complement the mild taste of the fritters.

Fritters
Ingredients:
Procedure:
  1. Using the large holes of a box grater, grate the zucchini, place them in a colander set in the sink, and toss with 1/2 tsp. of salt.

    Let stand for 10 minutes, and then wring the zucchini dry in a clean kitchen towel to remove moisture.

    Place the zucchini in a large bowl and gently mix in the egg, garlic, basil, oregano, lemon zest, onion powder, salt and pepper.

    Mix well to combine. Then slowly add the flour last while stirring so no lumps form.
  2. Heat 2 Tbsp. of coconut oil in a large sauté pan over medium-high heat until the oil sizzles when you drop a small amount of the batter into the pan.

    Carefully drop the fritters into the pan, spacing them a few inches apart.
  3. Cook fritters for 2 to 3 minutes until golden, then lower heat to medium.

    Turn the fritters, and then repeat the process. Transfer the cooked fritters to a plate and set aside in a warm place.

Avocado Dill Dip
Ingredients:
  • 1 ripe avocado
  • 1/2 tsp. of onion powder
  • 1/2 tsp. Vegenaise
  • 1/2 cup finely chopped dill
  • Salt to taste
Procedure:
  1. Cut avocado in half, and remove the seed.
  2. Scoop meat with a spoon and place in a bowl.
  3. Add all other ingredients.
  4. Mash until smooth.

Zucchini as the Fritter Foundation

Zucchinis are a popular filling for fritters, due to their fairly neutral taste that can be enhanced with herbs and spices. In terms of health benefits, zucchinis have plenty to go around. They're an excellent source of fiber, contain no cholesterol or unhealthy fats and have generous amounts of potassium, which are all essential to overall heart health.
To top it all off, zucchinis have good amounts of vitamins B1, B2, B3 and B6, as well as other nutrients such as folate, zinc, and magnesium — all of which can help proper blood sugar regulation.
When purchasing zucchinis, the dark-skinned varieties are recommended because they're richer in nutrients. The size is important as well — if a zucchini is too big, it is less flavorful, so pick the ones that are just the right size. Lastly, always remember to purchase from certified organic producers, because most varieties sold in the U.S. are genetically modified.

Creating the Batter Using Coconut Flour and Free-Range Eggs

Another key component that defines fritters is the batter. When mixed correctly and in the right consistency, the batter will be crispy once cooked. To create quality batter, you need quality eggs and flour.
In terms of nutrients, eggs have long been touted to be a good source of high-quality protein and amino acids such as tryptophan and tyrosine, which can help prevent cardiovascular disease. Be sure to purchase eggs harvested from free-range, pasture-raised chickens. Free-range chickens don't have any antibiotics injected in them, and are naturally healthy because they're allowed to eat their natural diet of worms and other insects.
If you’re not used to eating coconut-based products — which in this recipe are the oil you fry with and the coconut flour — you should give them a try. Coconuts are rich in lauric acid, which can help boost your immune system. I also highly recommended coconuts for pregnant women because the lauric acid can boost their baby’s immune system as well.

These Healthy Flavor Enhancers Pack an Extra Punch for This Snack

Herbs and spices can do wonders to a dish, such as enhancing the aroma and modifying the flavor. This recipe makes use of some of the most popular seasonings that are used around the world:
  • Basil — This mighty herb has powerful antioxidants such as vitamin A, which contains beta-carotenes that can protect your blood vessels from free radical damage. As a result, cholesterol in your blood is prevented from oxidizing. Basil also contains DNA–protecting flavonoids that provide plenty of cellular protection.
  • Oregano — It contains important vitamins such as vitamin A for immune system maintenance, and vitamin K to prevent the formation of blood clots. Oregano is a great source of folate as well, which can help form RNA and DNA building blocks in your cells. The high iron content found in oregano also lowers your risk of anemia.
  • Pepper — This popular spice brings plenty of dishes to life, but be careful because adding too much can make your fritters extra spicy (unless that's what you're going for). Research has shown that pepper is a great source of vitamin K, iron, manganese and fiber, which are essential nutrients for a properly functioning body. Pepper is also a carminative, meaning it can help prevent the formation of intestinal gas.
  • Garlic — This is a great ingredient because it provides plenty of nutrients, and its taste doesn't overpower the other ingredients. Garlic contains enzymes and antioxidants that promote improved body functions such as the healthy formation of bones and connective tissues, and proper thyroid function. It also contains generous amounts of manganese, vitamin B6 and C.
  • Lemon zest — It adds a citrusy undertone to the recipe. Lemons are good source of vitamin C, and contain flavonoids called esperetin and naringenin, which provide free radical-fighting properties. They're also a good source of fiber, calcium, potassium and vitamin B6. The citric acid also helps aid in digestion, and can even dissolve kidney stones.

Avocado Dip Adds Even More Flavor and Nutrients

Avocados are known for being bountiful in essential nutrients, such as vitamin K, B5, B6 and C, and are a good source of fiber too. They're also known for having high amounts of potassium, which can help prevent cardiovascular diseases. Overall, using avocados for this dip can help maintain your healthy cholesterol levels and aid in digesting of fat-soluble nutrients.
Dill is another herb that works similar to oregano and basil, adding savory warmth to the dip. It has been found to be a good source of vitamin A and C, similar to basil and lemons. The other ingredient used in this dip is Vegenaise. It's basically eggless mayonnaise made using expeller-pressed oils. It’s a great alternative, especially for vegans, because it is healthy and cholesterol-free.

Sunday, May 15, 2016

Hilangkan Bau Badan Tidak Sedap Dengan Cara Tradisional

Memiliki masalah bau badan akan membuat orang menjadi tidak percaya diri. Orang-orang di sekitarnya pun pasti risih dan tidak nyaman bila mendapati orang dengan bau menyengat di dekatnya.
Sebenarnya semua orang memiliki bau badan. Hal itu normal dan sangat wajar. Hanya saja tidak terlalu menyengat, namun ada beberapa orang yang memiliki bau badan yang menyengat dan tidak sedap. Hal ini dikarenakan beberapa faktor.
Tubuh kita memiliki 3 kelenjar keringat, salah satunya kelenjar apokrin. Kelenjar apokrin ini berada di tempat tumbuhnya bulu, yakni di kulit kepala, ketiak, dan area selakangan. Keringat yang dikeluarkan kelenjar apokrin cenderung berlemak. Di situ lah sumber bau pada umumnya.
Bila keringat yang keluar terlalu banyak, akan menyebabkan kulit menjadi lembab dan kotor. Tempat yang lembab, panas, dan kotor ini lah bakteri akan tumbuh subuh. Keringat yang tercampur dengan bakteri akan mengeluarkan bau tidak sedap. Maka dari itu, jagalah kebersihan tubuh Anda agar bakteri tidak berkembang biak, dan kurangi aktivitas atau mengonsumsi sesuatu yang menyebabkan Anda banyak berkeringat. Mandilah minimal 2 kali dalam sehari, dan jangan memakai kembali pakaian yang sudah kotor atau bekas keringat.

Faktor Penyebab Bau Badan

Selain bakteri dan kurangnya menjaga kebersihan, faktor lain yang membuat bau badan menjadi tidak sedap adalah:
Makanan & Minuman
Minuman yang mengandung kafein atau alkohol bisa memicu keringat berlebih, begitu juga makanan pedas. Sehingga menyebabkan tubuh menjadi panas dan lembab.
Obat-Obatan
Mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti aspirin, acetaminophen, pemakaian dosis thyroxine berlebih, injeksi hormon tiroid, venlafaxine, bupropion, dan beberapa obat untuk perawatan penyakit kejiwaan juga bisa memicu keluarnya keringat berlebih.
Penyakit
Beberapa penyakit juga mempengaruhi munculnya bau badan yang menyengat seperti gangguan hati, diabetes, gangguan pencernaan, dan gangguan metabolisme genetik.

Cara Alami Menghilangkan Bau Badan

Untuk menghilangkan bau badan yang mengganggu, Anda bisa saja menggunakan obat-obatan seperti antikolinergik yang akan mengurangi produksi keringat dengan menghalangi kerja asetilkolin, zat kimia yang merangsang kelenjar keringat, tapi obat ini memiliki efek samping yaitu mulut kering, penglihatan kabur, gangguan kencing, kehilangan selera makan, pusing, dan lainnya. Atau deodorant yang khusus untuk mencegah keluarnya keringat sehingga mengurangi bau badan.
Namun tidak ada salahnya mencoba melenyapkannya dengan bahan-bahan alami yang lebih sehat dan aman, terutama bila kulit Anda sensitif. Berikut ini tips-tipsnya:
Cuka
Cuka apel adalah salah satu anti bakteri yang kuat, sangat ampuh menghilangkan bau badan dengan menetralkan pH kulit.
Cara menggunakan:
Celupkan sebagian bola kapas ke dalam cuka, lalu oleskan ke ketiak. Tunggu 2-3 menit, lalu mandi. Lakukan sebanyak 2 kali sehari setiap pagi dan malam.
Cara lainnya, berendam dalam air yang sudah dicampur segelas cuka. Atau meminum air hangat yang sudah dicampur dengan madu dan 2 sendok cuka sebanyak 3 kali sehari sebelum makan.
Baking Soda
Tak hanya digunakan di dapur, baking soda bisa dimanfaatkan untuk perawatan rambut dan kulit. Baking soda membantu menyerap lembab dari kulit, menyerap keringat, dan mengurangi bau menyengat pada tubuh Anda. Selain itu, baking soda juga membunuh bakteri.
Cara menggunakan:
Campurkan sesendok makan baking soda dan air lemon, oleskan ke ketiak dan bagian tubuh lain yang banyak mengeluarkan keringat. Biarkan selama beberapa menit, lalu bilas dan mandi. Jangan digosok sama sekali.
Atau campurkan beberapa sendok baking soda dengan tepung maizena. Oleskan pada kulit ketiak secara merata dan tipis-tipis. Langkah ini hanya bertahan selama beberapa jam saja, berguna untuk mencegah keringat dan bau badan.
Rosemary
Rosemary mencegah pertumbuhan bakteri penyebab bau badan. Kandungan menthol dan klorofil-nya mempunyai khasiat sebagai deodorant alami yang menetralkan bau badan menyengat. Tak hanya itu, rosemary juga akan membuat tubuh Anda menjadi wangi. Rosemary juga mengandung zinc, yang bila kekurangan bisa menyebabkan bau badan.
Cara menggunakan:
Tambahkan satu setengah gelas rosemary kering ke dalam 4 gelas air panas. Diamkan selama 10 menit, lalu tambahkan ke air di bathup. Gunakan untuk berendam selama 15-20 menit. Lakukan sehari sekali.
Selain itu, Anda juga bisa mencampurkan 8-10 tetes minyak esensial rosemary ke dalam 30 ml air lalu gunakan untuk ketiak sebagai deodorant.
Air Lemon
Kandungan asam dalam lemon membantu menurunkan tingkat pH kulit, yang membuat bakteri penyebab bau badan tidak bisa bermukim di kulit Anda.
Cara menggunakan:
Belah lemon, gunakan untuk dioleskan ke ketiak. Biarkan sampai lemon kering meresap, lalu mandi dan bilas bersih. Lakukan sehari sekali.
Namun bila kulit Anda sensitif, larutkan air lemon ke dalam segelas air hangat, oleskan ke ketiak menggunakan kapas hingga merata. Bilas sampai bersih setelah didiamkan selama 10 menit.
Lobak
Lobak memiliki sifat anti bakterial yang membantu membunuh bakteri penyebab bau badan. Dan lonak merupakan sumber vitamin C yang baik serta kandungan lain yang membantu melenyapkan bau badan.
Cara menggunakan:
Buatlah pasta atau krim dari lobak, dengan menghaluskan 2-3 potong lobak menggunakan blender, lalu gunakan saringan untuk diekstrak airnya. Gunakan air lobak ini ke ketiak dan daerah berbulu lainnya. Biarkan sampai kering dan menyerap ke kulit, bilas menggunakan air hangat hingga bersih. Cara ini efektif selama kurang lebih 10 jam. Lakukan ini setiap pagi.
Minyak Tea Tree
Minyak tea tree bersifat anti bakterial dan juga berkhasiat sebagai antiseptik untuk membunuh bakteri yang ada di permukaan kulit dan menyingkirkan bau badan tidak sedap. Selain itu tea tree juga bertindak sebagai astringent, dengan mengendalikan keluarnya keringat.
Cara menggunakan:
Larutkan 2 tetes minyak tea tree ke dalam 3 ml air hingga tercampur. Masukkan ke dalam botol spray, dan gunakan sebagai deodorant semprot.
Rumput Gandum
Rumput gandum mengandung banyak sekali klorofil yang mempunyari efek seperti deodorant dan juga mennyingkirkan racun.
Cara menggunakan:
Campur 1-2 sendok makan air rumput gandum ke dalam segelas air. Minum sampai habis tiap pagi. Rumput gandum memiliki rasa yang cukup kuat, jadi bila Anda tidak menyukainya gunakan cara lain.
Tomat
Tomat mengandung antiseptik yang bisa membunuh bakteri penyebab bau badan serta membantu mengecilkan pori dan mengurangi keluarnya keringat.
Cara menggunakan:
Haluskan 7-8 buah tomat, saring pisahkan air dan ampasnya. Masukkan air tomat ke air yang akan Anda gunakan untuk mandi. Lakukan langkah ini sehari sekali. Selain itu Anda juga boleh meminumnya, 1 atau 2 gelas jus tomat setiap hari untuk menghilangkan bau badan.

Selain cara-cara di atas, berikut tips tambahan yang juga harus dilakukan agar usaha Anda untuk menghilangkan bau badan lebih efektif:
  • Mandi minimal sehari dua kali.
  • Jangan menggunakan baju yang sudah kotor, cuci bersih baju Anda.
  • Kendalikan emosi. Emosi juga bisa mempengaruhi banyaknya keringat yang keluar.
  • Gunakan baju yang terbuat dari katun yang menyerap keringat dari pada bahan sintetis agar tubuh Anda tidak lembab.
  • Minum banyak air putih.
  • Selektif terhadap makanan dan minuman. Banyak-banyak lah makan sayur seperti bayam, kale, dan lainnya.
  • Cukur/potong rambut ketiak secara teratur dengan cara yang benar. Mencukur rambut ketiak dengan cara yang salah bisa mengakibatkan iritasi.
http://webkesehatan.com/hilangkan-bau-badan/

Wednesday, May 11, 2016

How to Stay Healthy and Low Risk During Pregnancy and Birth

by Amy Haas

© 2001 Amy Haas and Midwifery Today, Inc. All rights reserved.

Nutrition
If you did only one thing to help yourself stay healthy during pregnancy, good nutrition would be it! It is the single most important factor in having a healthy baby and a healthy mom. Eating well in pregnancy means following the Brewer diet, which consists of 75 to 100 grams of good quality protein per day from varied sources. Great high-protein food sources include meats, soy products, eggs, dairy, nuts, beans and seeds. You should also be eating five servings of high-complex carbohydrates to ensure adequate calories for energy, as well as an additional source of protein. This would include whole grains that are not milled or processed, retaining the most nutrients, protein and fiber. Eating dairy, soy, nuts, bean products and broccoli will assist in getting enough calcium. Additional healthy foods to include would be whole, fresh fruits and vegetables—and don't forget to drink to thirst and salt to taste! But try to avoid desserts and junk food. Organic food sources are highly recommended when available. Think color and variety! This will help you obtain all the nutrients your body needs to build a healthy baby. Eating right during pregnancy can help prevent premature labor and birth, toxemia, placental abruption, gestational diabetes, problems with breastfeeding and healing, and many other serious health problems that would place a mom in the high-risk category.
Exercise
Pregnancy exercises can help prepare your body for the birth of your baby by targeting specific muscles used during labor. Regular physical exercise can help build strength and stamina. It also makes it easier to recover after birth. Check with your care provider as to any physical limitations you may have.
Education
Educating yourself with regard to all the issues involving pregnancy and birth will help you make responsible decisions that are right for you and your family. As the authors of A Good Birth, A Safe Birth say, "If you don't know what your choices are, then you don't have any!" There are many different types of childbirth classes, and you need to research to find out which one will fit your needs. A good book to help in this search is The Birth Book, by Dr. William Sears and Martha Sears, RN. Educating yourself well will help you avoid unnecessary health risks common today in birth in the United States. This would include educating yourself as to the necessity of routine testing and procedures during pregnancy. Before consenting to routine testing or procedures, be sure that they are being done for a true medical need or problem. You need to be aware of the risks and benefits of all tests and procedures during pregnancy. Excellent sources of information on this topic include Henci Goer's book Obstetric Myths vs. Research Realities and Barbara Katz Rothman's book The Tentative Pregnancy.
Avoidance of Harmful Substances
Everyone knows you should avoid all street drugs during pregnancy so that your baby will not be harmed, but there are many other elements that should also be avoided to have a healthy pregnancy. They include tobacco, alcohol, caffeine, pollution, pesticides, household and industrial chemicals, and any medically unnecessary medications, including over-the-counter drugs. According to the Physicians Desk Reference, the American Academy of Pediatrics and the Food and Drug Administration, there is no drug that is considered safe during pregnancy. Sadly, this would also include all medications commonly given during birth, as they all reach the baby and can have negative side effects for both the mom and baby. Any medication given to a pregnant or laboring woman should be for a true medical problem only. All prescription medications should be taken to your care provider and checked to see if they are truly necessary during pregnancy, if there may be a safer medication or if a smaller dose might be appropriate. Before taking anything, you should always check with your care provider first.
Choosing a Birth Attendant Wisely
When choosing a doctor or midwife to assist at your birth, it is important you choose one who not only matches your birth philosophy, but also respects your right to make choices that are right for you. Be sure to interview all candidates before choosing. Think about what kind of a practice you would be comfortable with. Would you prefer a large practice of doctors or midwives or a small practice of only one or two care providers? If you discover along the way that you are no longer comfortable with your original choice, it is important to know that you have the right to change care providers. Choosing wisely the first time will create less stress in your life.
Choosing Your Birth Place Wisely
When choosing where to have your baby, it is good to know that homebirths have been shown to be as safe as, if not safer than, hospital births. Think about where you will feel the safest and most comfortable. If you feel safest in a hospital setting, then that may be a good choice for you. This, of course, will depend on your health status. Only low-risk women will be accepted for a homebirth. While it is possible to have a healthy natural birth in a hospital setting, it is certainly more difficult.
Doulas
Consider hiring a professional labor assistant to help you through your labor. Studies have shown that having a doula can reduce the need for medication, cesarean sections, Pitocin to speed up labor and other interventions common in birth today. It's also wonderful to have backup for your primary labor support person in the event of a long labor.
Birth Plans
Never assume that everyone attending your birth knows what you do and don't want! Create a birth plan that outlines your ultimate goals and priorities. To do this you will need to educate yourself with regard to all aspects of birth in the United States so that you know what your priorities are.
Amy V. Haas, AAHCC, was trained and certified as a Bradley Method® Childbirth Educator in 1995. Her educational history includes a bachelor of arts in sociology from Plattsburgh State University of New York, and a certification as a paralegal from Adelphi University in New York. For the past six years she has continually taught Bradley® classes to pregnant families and empowered them to educate themselves to make healthy decisions that are right for them.
Recommended Resources:
  • The Dr. Brewer Pregnancy Diet
  • The Birth Book, by William Sears, MD, and Martha Sears, RN
  • The Thinking Woman's Guide to a Better Birth, by Henci Goer
  • Natural Childbirth the Bradley Way, by Susan McCutcheon
  • A Wise Birth, by Armstrong and Feldman
  • A Good Birth, A Safe Birth, by Korte and Scaer
  • Gentle Birth Choices, by Barbara Harper
  • Active Birth, by Janet Balaskas
  • Obstetric Myths vs. Research Realities, by Henci Goer
  • The Tentative Pregnancy, by Barbara Katz Rothman

https://www.midwiferytoday.com/articles/stayhealthy.asp

Thursday, May 5, 2016

18 Makanan Terbaik untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes atau kencing manisdituntut untuk bisa mengatur pola makannya sebaik mungkin, baik dari segi jumlah, jadwal, maupun jenis makanannya. Kurangnya jumlah insulin maupun terjadinyaresistensi insulin membuat penderitanya harus berhati-hati menjaga agar kadar gula atau glukosa dalam darah mereka tidak melonjak.
Pasalnya, kadar glukosa yang tinggi setelah makan dapat memicu timbulnya komplikasi makrovaskuler seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah. Namun, risiko tersebut dapat diturunkan jika penderita diabetes tetap konsisten menjalani gaya hidup sehat.
Mereka perlu memilih makanan yang memiliki daftar indeks glikemik rendah dan menyediakan nutrisi penting seperti kalsium, potasium, serat, magnesium, vitamin A, vitamin C, dan vitamin E. Makanan tersebut juga tidak boleh meningkatkan kadar gula darah secara signifikan, mampu membakar lemak, mengurangi inflamasi, dan memiliki manfaat kesehatan lainnya.

Makanan yang Disarankan untuk Penderita Diabetes

Berikut ini adalah daftar 18 makanan terbaik yang disarankan untuk penderita diabetes:
Cokelat hitam
Cokelat kaya akan flavanoid yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi resistensi insulin, mempercepat pengolahan glukosa darah, dan mengurangi keinginan untuk makan berlebih. Namun, tidak semua cokelat memiliki tingkat khasiat yang sama.
Salah satu penelitian dari University of Copenhagen tahun 2008 menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi cokelat hitam akan memiliki keinginan yang lebih rendah untuk makan makanan manis, asin, atau berlemak dibandingkan mereka yang mengonsumsi cokelat susu. Kandungan flavanoid cokelat susu sendiri memang lebih rendah dibandingkan cokelat htam, sedangkan gula serta lemaknya lebih banyak.
Cokelat hitam bahkan dapat mengurangi jumlah pizza yang dikonsumsi relawan di hari yang sama hingga 15%. Kandungan flavanoid dalam cokelat juga dapat menurunkan risiko terkena kanker, mengontrol tekanan darah, dan mengurangi risiko terkena serangan jantung hingga 2% selama 5 tahun.
Brokoli
Studi oleh Warwick University yang dimuat dalam jurnal “Diabetes” melaporkan bahwa brokoli mengandung senyawa sulforaphane yang mampu memperbaiki dan melindungi melindungi dinding pembuluh darah dari kerusakan kardiovaskular akibat diabetes.
Sulforaphane juga memicu proses anti inflamasi, mengontrol kadar glukosa darah, meningkatkan mekanisme detoksifikasi alami dalam tubuh, serta meningkatkan produksi enzim yang mengendalikan senyawa kimia berbahaya penyebab kanker. Brokoli pun mengandung kromium yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin dalam tubuh.
Blueberry
Blueberry mengandung baik serat tak larut yang menghilangkan lemak dari tubuh, maupun serat larut yang diolah lebih lama dalam tubuh dan mengendalikan kadar gula darah. Penelitian yang dilakukan USDA menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi 2 ½ gelas jus bluberry liar setiap hari selama 12 minggu dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah, mengatasi depresi, dan meningkatkan daya ingatnya.
Hal ini dikarenakan bluberry mengandung antosianin, senyawa kimia alami yang mengecilkan sel lemak dan menstimulasi produksi adiponektin, hormon yang mengatur kadar glukosa darah. Meningkatkan kadar adiponektin dapat menjaga kadar gula darah tetap rendah dan meningkatkan sensitifitas tubuh terhadap insulin. American Diabetes Association (ADA) bahkan menyebut blueberry sebagai “Diabetes superfood” karena manfaatnya bagi kesehatan.
Steel cut oats (Oatmeal)
Pemilihan sumber karbohidrat sangat penting bagi penderita diabetes karena berpengaruh besar pada kadar gula darah. ADA merekomendasikan gandum utuh seperti oatmeal yang mengandung karbohidrat kompleks dan serat larut tinggi. Serat ini lebih lambat dicerna oleh tubuh sehingga kadar glukosa darah lebih terkontrol.
Oatmeal juga kaya akan magnesium yang membantu tubuh memanfaatkan glukosa dan mensekresi insulin dengan baik. Percobaan yang dilakukan selama delapan tahun menunjukkan penurunan risiko terkena diabetes tipe 2 hingga 19% pada wanita yang melakukan diet kaya magnesium, dan 31% pada wanita yang rajin mengonsumsi gandum utuh. Oatmeal juga dapat menurunkan risiko terkena serangan jantung yang merupakan salah satu komplikasi diabetes.
Salah satu jenis oatmeal yang disarankan adalah steel cut oats, yakni kernel oat yang dipotong-potong menjadi bagian kecil. Oat jenis ini memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan oatmeal instan. Steel cut oats juga mengalami pemrosesan paling rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama saat dimasak.
Ikan
Tak hanya kaya akan protein yang membuat Anda merasa kenyang lebih lama, ikan juga mengandung asam lemak omega-3 yang membantu meredakan peradangan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kadar asam lemak omega-3 tertinggi di dalam darahnya akan mengalami inflamasi lebih rendah. Inflamasi dalam tingkat parah dapat memperburuk diatbetes dan menyebabkan masalah berat badan.
Menyertakan ikan dalam diet Anda juga membantu mengurangi risiko terkena berbagai penyakit, terutama stroke yang menjadi salah satu komplikasi diabetes. Berdasarkan penelitian dari Emory University 2010 lalu, orang-orang yang makan ikan panggang atau kukus akan memiliki risiko terkena stroke lebih rendah hingga 3%. Namun, ikan goreng, ikan cepat saji, dan seafood lain yang digoreng justru dapat meningkatkan risiko terkena penyakit yang sama.
Minyak zaitun (olive oil)
Salah satu penelitian di Spanyol yang diterbitkan di jurnal “Diabetes Care” menunjukkan bahwa diet ala Mediterania yang menyertakan minyak zaitun dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2 hingga hampir 50% dibandingkan diet rendah lemak. Diet dengan minyak zaitun mampu mencegah resistensi insulin, penimbunan lemak perut, dan penurunan adiponektin.
ADA menyarankan agar penderita diabetes menggunakan minyak zaitun untuk menggantikan lemak tak sehat yang berasal dari mentega, margarin, dan lemak babi. Minyak zaitun juga kaya antioksidan yang melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, serta mencegah terjadinya penyakit jantung.
Sekam psyllium
Psyllium merupakan tumbuh-tumbuhan kaya serat yang berasal dari India. Kulit ari atau sekamnya yang mengandung serat larut air sering digunakan untuk mengobati sembelit dan menurunkan berat badan. Namun tak hanya itu, sekam psyllium juga dapat mengontrol kadar glukosa darah para penderita diabetes.
Salah satu tinjauan dari University of California, San Diego, 2010, yang diterbitkan dalam “Annals of Pharmacotherapy” membenarkan manfaat ini. Mereka yang mengonsumsi psyllium sebelum makan akan mengalami kenaikan kadar gula darah setelah makan sebanyak 2% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak. Namun, para peneliti menyarankan agar penderita menunggu setidaknya 4 jam setelah makan psyllium sebelum minum obat-obatan lain, karena psyllium dapat menghalangi penyerapan obat tersebut.
Kacang cannellini
Hampir semua kacang-kacangan memiliki indeks glikemik rendah serta kaya akan serat dan protein yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Namun, kacang cannellini yang sering digunakan dalam berbagai masakan Italia memiliki indeks glikemik yang paling rendah.
Dalam penelitian yang dilakukan di University of Toronto, 2012, sebanyak 121 penderita diabetes tipe 2 melakukan diet sehat dengan mengonsumsi kacang-kacangan atau gandum utuh setiap hari. Tiga bulan kemudian, mereka yang mengonsumsi kacang-kacangan mengalami penurunan tingkat A1c (kadar gula darah rata-rata) hampir 2 kali dibandingkan mereka yang mengonsumsi gandum utuh.
Bayam
Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi lebih dari satu porsi bayam dalam sehari dan sayuran berdaun hijau lainnya mengalami penurunan risiko hingga 14% dibandingkan mereka yang hanya makan ½ porsi per hari. Pasalnya, sayuran berdaun hijau kaya akan vitamin K serta mineral magnesium, folat, fosfor, potasium, dan seng. Bayam juga mengandung senyawa lutein, zeaxanthin, dan berbagai flavonoid lainnya.
Ubi jalar
Salah satu analisis menemukan bahwa ubi jalar mampu mengurangi HbA1c sebanyak 0,3 hingga 0,57% dan mempercepat pemrosesan glukosa darah sebanyak 10 hingga 15 poin. Ubi jalar juga mengandung antosianin yang merupakan pigmen alami yang memberinya warna oranye gelap. Senyawa yang termasuk antioksidan ini bermanfaat sebagai zat anti peradangan, anti viral, dan anti mikroba. Ubi jalar juga kaya akan vitamin A dan serat. Gunakan ubi jalar sebagai pengganti kentang karena memiliki indeks glukosa lebih rendah.
Kacang kenari (walnut)
Walnut atau kacang kenari mengandung asam lemak tak jenuh bernama alfa-linolenik yang dapat menurunkan peradangan. Kandungan serat, L-arginin, omega-3, vitamin E, dan senyawa fitokimia yang ditemukan dalam walnut dan kacang-kacangan lain membuat mereka berfungsi sebagai zat antioksidan, antikanker, antiviral, dan anti kolesterol tinggi. Khasiat ini dapat mencegah perkembangan kondisi kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.
Penelitian dari Yale University yang diterbitkan dalam jurnal “Diabetes Care”, 2009, menunjukkan bahwa konsumsi walnut sebanyak 56 gram selama 8 minggu dapat memberbaiki fungsi pembuluh darah yang rusak akibat diabetes. Sedangkan penelitian lain dari Australia melaporkan bahwa pasien yang mengonsumsi 30 gram walnut dalam satu tahun mengalami penurunan kadar gula darah puasa lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak.
Kinoa
Kinoa atau sering disebut juga dengan quinoa adalah makanan pokok yang sering digunakan oleh suku Inca. Rasanya mirip seperti gandum, namun kekerabatannya lebih dekat dengan bayam dibandingkan padi. Berbeda dengan sebagian besar gandum, kinoa merupakan sumber protein lengkap yang jumlahnya mencapai 14 gram per ½ cangkir, termasuk sembilan asam amino esensial.
Salah satunya adalah lisin, yang berfungsi menyerap seluruh kalsium pembakar lemak dan membantu menurunkan kolesterol. Kinoa juga merupakan salah satu sumber serat terkaya, mengandung 2,6 gr per ½ cangkir yang membantu menyeimbangkan kadar gula darah dan membuat Anda merasa kenyang lebih lama.
Kayu manis
Salah satu studi dalam jurnal “Diabetes Care” menyebutkan bahwa penderita diabetes tipe 2 yang mengonsumsi satu gram kayu manis atau lebih secara rutin setiap hari dapat menurunkan kadar gula puasanya sebesar 30% dibandingkan mereka yang tidak. Kayu manis juga membantu menurunkan trigliserida, kolesterol LDL, dan total kolesterol sebanyak 25%.
Hal ini dikarenakan kayu manis kaya akan kromium, mineral yang meningkatkan efek insulin. Kayu manis juga mengandung polifenol, antioksidan pelawan radikal bebas dan mampu menurunkan inflamasi, sehingga menjaga Anda dari diabetes dan penyakit jantung.
Collard greens
Sayuran berdaun hijau gelap seperti collard greens (sejenis sawi) mengandung vitamin C yang berlimpah. Vitamin ini dapat menurunkan kortisol di dalam tubuh dan mengurangi peradangan. Collard greens dan sayuran kubis-kubisan lain seperti kale dan kembang kol juga merupakan sumber asam alfa-lipoic (ALA), mikronutrien yang membantu mengatasi stres. ALA dapat membantu mengurangi kadar gula darah dan menguatkan pembuluh yang rusak akibat diabetes.
Kunyit
Kunyit telah digunakan untuk menjaga kesehatan masyarakat India selama sekitar 5 ribu tahun. Untuk mencegah lonjakan gula darah setelah mengonsumsi nasi putih dan roti tepung yang sering dipakai dalam diet tradisional India, mereka menyertakan kunyit yang mengandung zat aktif Curcumin.
Curcumin diyakini dapat mengatur metabolisme lemak dalam tubuh. Curcumin bekerja pada sel lemak, sel pankreas, sel ginjal, dan sel otot secara langsung dengan meredakan peradangan dan mencegah nekrosis tumor penyebab kanker dan interlukin-6. Para ahli meyakini bahwa kombinasi seluruh faktor ini membuat curcumin mampu mengatasi resistensi insulin, kolesterol dan kadar gula darah yang tinggi, serta gejala lain terkait obesitas.
Buah-buahan citrus
Buah-buahan citrus seperti grapefruit, jeruk, dan lemon mengandung serat dan vitamin C dalam jumlah tinggi. Buah-buahan ini mengandung gula alami fruktosa yang tidak meningkatkan gula darah secara signifikan setelah dikonsumsi. Fiber yang terkandung di dalamnya juga dapat membantu mengontrol gula darah anda. Citrus juga mengandung antioksidan antingerin yang membantu mencegah obesitas, mempertahankan berat badan, dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Tomat
Salah satu penelitian di Australia melaporkan bahwa konsumsi jus tomat setiap hari dapat mengurangi risiko penggumpalan darah yang sering terjadi pada penderita diabetes. Penggumpalan darah ini dapat menyebabkan komplikasi seperti serangan jantung, stroke, dan penyakit berbahaya lainnya yang dapat mengancam jiwa. Tomat pun kaya akan vitamin C, vitamin E, zat besi, dan antioksidan penting lainnya. Tomat juga mengandung likopen dan lutein yang melindungi ginjal dan pembuluh darah dari kerusakan akibat diabetes.
Susu dan yogurt rendah lemak
Selain gula, lemak juga menjadi hal yang harus diperhatikan oleh penderita diabetes. Banyak penderita menderita diabetes tipe 2 karena timbunan lemak jahat di tubuh yang menyebabkan tubuh tidak peka terhadap insulin. Oleh karena itu, ADA menyarankan konsumsi susu dan yogurt redah lemak untuk memenuhui kebutuhan lemak baik, kalsium, dan vitamin D harian Anda.
Penelitian dari University of Cambridge bahkan menunjukkan bahwa konsumsi yogurt rendah lemak dapat menurunkan risiko terkena diabetes hingga 28% dibandingkan tidak memakannya sama sekali. Peneliti juga meyakini bahwa mikroba di dalam yogurt bermanfaat untuk mengurangi peradangan yang sering dialami penderita diabetes.
http://webkesehatan.com/